Takehiko Nakao: BOJ perlu intervensi yen dengan naikkan suku bunga

Minggu, 08 Februari 2026

image

TOKYO – Mantan pejabat Kementerian Keuangan Jepang menilai bahwa intervensi nilai tukar yang dilakukan Bank of Japan (BOJ) dengan menggunakan cadangan devisa memang mampu memberikan dampak cepat ke pasar. Namun, efektivitas kebijakan tersebut akan lebih berkelanjutan jika dibarengi kenaikan suku bunga secara bertahap.

Dikutip dari Reuters, pernyataan ini disampaikan Takehiko Nakao, yang pernah menjabat Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Urusan Internasional pada 2011–2013, di tengah melemahnya yen menjelang fase akhir kampanye pemilu Jepang.

“Intervensi dengan dana nyata bisa memberikan efek kuat dalam jangka pendek. Namun dampaknya lebih tahan lama jika BOJ menunjukkan komitmen yang jelas untuk secara konsisten menaikkan suku bunga,” ujar Nakao, yang kini menjabat Ketua Center for International Economy and Strategy.

Pada Desember lalu, BOJ menaikkan suku bunga kebijakan jangka pendek ke level 0,75 persen dan memberi sinyal akan terus menaikkan biaya pinjaman. Meski demikian, suku bunga riil Jepang masih negatif, karena inflasi telah melampaui target 2 persen BOJ selama hampir empat tahun terakhir.

Menurut Nakao, pelemahan yen terutama disebabkan oleh kebijakan moneter BOJ yang masih terlalu longgar. Laju kenaikan suku bunga yang lambat membuat selisih suku bunga dengan Amerika Serikat tetap lebar, sehingga menekan nilai tukar yen.

“Dengan merespons inflasi melalui kenaikan suku bunga, pemerintah juga berpeluang menahan lonjakan berlebihan pada imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang,” tambahnya.

Nakao memperingatkan bahwa yen berpotensi kembali tertekan jika BOJ tidak segera mempercepat pengetatan moneter. Ia juga menyoroti pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya sebagai faktor eksternal yang perlu dicermati.

“Warsh kemungkinan besar akan tetap berpegang pada tradisi sejak era mantan Menteri Keuangan AS Robert Rubin, bahwa dolar yang kuat dan stabil adalah kepentingan Amerika Serikat,” ujarnya. (BS)