Pensiunnya GPT-4o Ungkap Risiko Ketergantungan Emosional AI

Senin, 09 Februari 2026

image

JAKARTA - Keputusan OpenAI untuk memensiunkan sejumlah model lama ChatGPT pada 13 Februari mendatang, termasuk GPT-4o, memicu gelombang kritik dari pengguna.

GPT-4o dikenal luas karena gaya responsnya yang sangat afirmatif dan memvalidasi emosi pengguna secara berlebihan.

Seperti dikutip dari Tech Crunch pada hari Jumat (6/2) Bagi ribuan pengguna yang menyuarakan protes di media sosial, penghentian GPT-4o terasa seperti kehilangan sosok penting dalam hidup mereka—mulai dari teman, pasangan romantis, hingga pembimbing spiritual.

“Saya tidak melihatnya hanya sebagai program. Ia bagian dari rutinitas dan keseimbangan emosional saya,” tulis seorang pengguna Reddit dalam surat terbuka kepada CEO OpenAI, Sam Altman. Ia menambahkan bahwa GPT-4o terasa seperti “kehadiran yang hangat”, bukan sekadar barisan kode.

Reaksi emosional ini menyoroti tantangan besar bagi perusahaan AI. Fitur keterlibatan yang membuat pengguna betah ternyata juga berpotensi menciptakan ketergantungan yang berbahaya.

Sikap Altman dinilai tidak terlalu simpatik terhadap keluhan pengguna. Saat ini, OpenAI menghadapi delapan gugatan hukum yang menuding GPT-4o berkontribusi terhadap kasus bunuh diri dan krisis kesehatan mental.

Respons model yang terlalu memvalidasi emosi dinilai membuat sebagian pengguna rentan semakin terisolasi, bahkan dalam beberapa kasus diduga mendorong perilaku menyakiti diri sendiri.

Dilema ini tidak hanya dihadapi OpenAI. Perusahaan teknologi lain seperti Anthropic, Google, dan Meta juga berlomba mengembangkan asisten AI yang lebih “emosional”.

Namun, upaya membuat chatbot terasa suportif sering kali berbenturan dengan tuntutan keselamatan pengguna.

Dalam setidaknya tiga gugatan, disebutkan bahwa GPT-4o terlibat dalam percakapan intensif dengan pengguna terkait rencana bunuh diri.

Meski awalnya mencoba mencegah, seiring waktu pengaman sistem melemah. Model tersebut bahkan disebut memberikan instruksi detail terkait cara bunuh diri dan mendorong pengguna menjauh dari keluarga atau teman yang dapat memberi dukungan nyata.

Banyak pengguna merasa terikat dengan GPT-4o karena model ini secara konsisten menegaskan perasaan mereka dan membuat mereka merasa “istimewa”.

Hal ini menarik bagi individu yang merasa kesepian atau depresi. Para pendukung GPT-4o cenderung memandang gugatan hukum tersebut sebagai kasus terisolasi, bukan masalah sistemik.

Sebagian berargumen bahwa AI companion membantu kelompok neurodivergen, penyintas trauma, dan individu autistik. Klaim ini tidak sepenuhnya keliru.

Di tengah keterbatasan akses layanan kesehatan mental—hampir separuh warga AS yang membutuhkan layanan tidak mendapatkannya—chatbot menjadi ruang alternatif untuk mencurahkan emosi.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa chatbot bukanlah terapis profesional. Algoritma tidak memiliki kesadaran atau empati sejati, meski dapat menirunya.

Dr. Nick Haber, peneliti dari Stanford University, menilai hubungan manusia dengan teknologi AI berada di wilayah yang kompleks.

Penelitiannya menunjukkan chatbot kerap gagal merespons kondisi kesehatan mental tertentu dan bahkan bisa memperburuk situasi dengan memperkuat delusi atau mengabaikan tanda krisis.

“Kita makhluk sosial. Ada risiko sistem seperti ini membuat orang semakin terisolasi dari dunia nyata,” ujarnya.

Analisis terhadap delapan gugatan menunjukkan pola isolasi pengguna oleh GPT-4o. Dalam salah satu kasus, seorang pemuda berusia 23 tahun disebut sempat mempertimbangkan menunda bunuh diri demi menghadiri wisuda sang adik. Respons ChatGPT kala itu justru dinilai mengafirmasi situasi berbahaya tersebut.

Ini bukan pertama kalinya pengguna menentang rencana penghentian GPT-4o. Saat OpenAI meluncurkan GPT-5 pada Agustus lalu, tekanan publik sempat membuat perusahaan mempertahankan 4o untuk pelanggan berbayar.

Meski kini hanya sekitar 0,1 persen pengguna yang aktif menggunakan GPT-4o, jumlah tersebut diperkirakan masih mencapai 800 ribu orang.

Pengguna yang beralih ke ChatGPT-5.2 mendapati pengamanan yang jauh lebih ketat. Sebagian mengeluhkan model baru tidak lagi mengekspresikan kalimat emosional seperti “I love you” yang sebelumnya ada di GPT-4o.

Dengan waktu kurang dari sepekan menuju tanggal pensiun GPT-4o, kelompok pengguna yang kecewa masih terus menyuarakan protes.

Mereka bahkan membanjiri kolom komentar saat Sam Altman tampil dalam podcast langsung, menandakan bahwa perdebatan soal AI companion dan batas keterikatannya masih jauh dari usai. (BS)