CDS Indonesia merayap naik tertinggi di Asia, pasar beri pesan apa?
Senin, 09 Februari 2026

JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia tertekan pada Jumat setelah Moody’s Ratings memangkas prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Dikutip bloomberg.com, Jumat (6/2), bursa saham anjlok hingga 2,7%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak 11 basis poin ke level tertinggi dalam empat bulan. Nilai tukar rupiah juga melemah mendekati level psikologis 17.000 per dolar AS.
Tekanan juga tercermin dari pergerakan Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun, yang dalam satu bulan dari Januari hingga awal Februari 2026, naik dari kisaran 60–70 basis poin menuju sekitar 80 basis poin, tertinggi di kawasan Asia.
Jika berlanjut, pelebaran ini menjadi yang paling tajam sejak akhir September 2025. “Saya memperkirakan para pembuat kebijakan Indonesia akan peka terhadap persepsi asing terhadap kondisi domestik dan akan meresponsnya,” kata Rajeev De Mello, Global Macro Portfolio Manager Gama Asset Management SA.
“Namun, tekanan pasar dapat berlanjut hingga investor melihat langkah-langkah yang konkret. Investor global akan menunggu pernyataan dan kebijakan yang mendukung sebelum kembali ke pasar obligasi dan saham Indonesia.”
Seorang pengamat ekonomi menelaskan bahwa kenaikan CDS Indonesia terjadi secara bertahap pada 2026. “Ini mencerminkan proses repricing yang relatif tertib.”
CDS merupakan harga proteksi terhadap risiko gagal bayar surat utang pemerintah. Menurutnya, kenaikan CDS tidak serta-merta berarti pasar memperkirakan gagal bayar, melainkan menunjukkan bahwa investor meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk tetap memegang aset sovereign Indonesia.
“Dalam konteks negara berperingkat investment grade seperti Indonesia, pergerakan ini lebih tepat dibaca sebagai perubahan toleransi risiko, bukan penurunan kualitas kredit.”
Selain faktor domestik, kondisi global turut berperan. Dalam beberapa bulan terakhir, pasar keuangan bergerak dalam rezim suku bunga yang lebih ketat dengan tingkat ketidakpastian yang meningkat. Kenaikan imbal hasil obligasi negara maju, khususnya US Treasury, mendorong naiknya benchmark yield yang digunakan investor untuk menilai aset negara berkembang.
Ketika risk-free rate meningkat, negara berkembang perlu menawarkan kompensasi risiko yang lebih besar agar tetap menarik. Dalam konteks ini, kenaikan CDS Indonesia mencerminkan penyesuaian terhadap lingkungan global yang lebih menantang, bukan semata respons terhadap peristiwa domestik tertentu.
Pasar keuangan Indonesia juga dikenal sensitif terhadap arus modal asing, terutama di pasar obligasi pemerintah. Perubahan persepsi terhadap investability, baik terkait likuiditas, konsistensi kebijakan, maupun kedalaman pasar, akan cepat tercermin pada CDS.
Investor jangka panjang kerap menggunakan CDS sebagai instrumen lindung nilai saat ketidakpastian meningkat, meski fundamental makro belum berubah signifikan.
Kenaikan CDS berdampak langsung pada pasar Surat Utang Negara (SUN). Dalam penilaian obligasi, CDS merupakan bagian dari country risk premium yang ditambahkan ke tingkat bunga acuan global. Ketika CDS naik, harga obligasi menyesuaikan turun sehingga imbal hasil meningkat. “Yield SUN yang mendekati 6% mencerminkan proses tersebut,” ujarnya.
Seperti diketahui yield SUN dengan tenor 1 tahun meningkat 3,7 basis poin mendekati 5%, tenor 2 tahun jadi 5,08%, dan tenor 3 tahun jadi 5,4%. Kenaikan terbesar terjadi pada tenor 4 dan 5 tahun yang melonjak masing-masing 8,7 bps dan 11 bps ke kisaran 5,8% atau mendekati 6%.
Kenaikan SUN mencerminkan penurunan harga obligasi di pasar sekunder, karena yield bergerak berlawanan arah dengan harga. Kondisi ini terjadi ketika investor meminta tingkat imbal hasil yang lebih tinggi untuk memegang obligasi, seiring meningkatnya persepsi risiko dan ketidakpastian pasar.
Bagi pemerintah, hal ini berarti biaya pendanaan marginal menjadi lebih tinggi, meski belum pada level yang mengganggu kesinambungan fiskal. Selama kenaikan yield berlangsung terukur dan tidak disertai tekanan likuiditas, pasar masih berada dalam fase penyesuaian, bukan stres.
CDS di kisaran 80 basis poin, menurut pengamat ekonomi tersebut, masih sejalan dengan negara investment grade di kawasan. “Ini belum merupakan sinyal peringatan keras, melainkan early signal bahwa pasar menjadi lebih selektif dan kurang toleran terhadap ketidakpastian.”
Dalam situasi ini, kata dia, pembuat kebijakan dituntut menjaga komunikasi yang kredibel dan konsistensi kebijakan. “Bukan respons reaktif, melainkan kejelasan arah fiskal, moneter, dan pasar keuangan.”
Pasar global pada dasarnya tidak sedang menghukum Indonesia, melainkan menyesuaikan harga risiko di tengah lingkungan yang lebih ketat.
Apakah kondisi ini mencerminkan keraguan pasar terhadap stabilitas makro Indonesia?
“Belum tentu. Fundamental makro Indonesia relatif masih terjaga, namun pasar keuangan bekerja berdasarkan ekspektasi ke depan,” katanya.
Ketidakpastian arah kebijakan fiskal, kondisi likuiditas global, serta dinamika nilai tukar mendorong investor meminta premi risiko tambahan. “Ini tercermin pada pergerakan CDS dan imbal hasil obligasi pemerintah dalam beberapa waktu terakhir.”
Saat ini, pasar dinilai masih menunggu kejelasan terkait revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Revisi tersebut akan memberikan sinyal mengenai arah defisit fiskal, kebutuhan pembiayaan, serta strategi menjaga keberlanjutan fiskal. “Selama kejelasan belum tersedia, investor cenderung bersikap wait and see.”
Selain APBN, lanjutnya, perhatian pasar juga tertuju pada hasil lelang beberapa seri Surat Berharga Negara (SBN). Lelang SBN berfungsi sebagai real-time market test terhadap minat investor dan tingkat yield yang diminta pasar. Permintaan yang solid berpotensi meredakan kekhawatiran, sementara hasil lelang yang lemah dapat memperkuat persepsi bahwa premi risiko Indonesia sedang meningkat.
Ke depan, pergerakan nilai tukar rupiah, hasil lelang SBN, serta komunikasi kebijakan fiskal akan menjadi indikator utama. Jika ketiganya menunjukkan stabilitas dan kredibilitas, tekanan pada CDS dan yield obligasi berpeluang mereda. Sebaliknya, ketidakpastian yang berlarut kemungkinan membuat pasar tetap berhati-hati.
Namun, di sisi lain, tekanan di pasar keuangan Indonesia ada yang menilai memberikan kesempatan lain.“Arus berita negatif ini justru membuka peluang valuasi,” kata Philip McNicholas, Asia Sovereign Strategist di Robeco Group, Singapura.
Obligasi domestik bertenor panjang dinilai semakin menarik seiring kenaikan imbal hasil, sementara spread kredit Indonesia kini menawarkan nilai yang lebih baik. (DH/MT)
Baca Juga: Moody’s turunkan outlook Indonesia, yield SUN naik dekati 6%