Tambang emas terbesar Indonesia, dari Martabe hingga Grasberg

Senin, 09 Februari 2026

image

JAKARTA - Indonesia memiliki cadangan emas besar yang tersebar dari wilayah barat hingga timur. Salah satu yang belakangan menyita perhatian adalah Tambang Emas Martabe di Sumatra Utara, yang dikelola PT Agincourt Resources, anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR).

Pemerintah berencana mengambil alih konsesi tambang Martabe melalui PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Saat ini, 95% saham Agincourt dimiliki PT Danusa Tambang Nusantara, afiliasi PT Pamapersada Nusantara dan UNTR.

Dikutip bloombergtechnoz.com, tambang Martabe mulai dikembangkan sejak 2008 dan berproduksi pada 2012. Area konsesi awal seluas 6.560 km² kini menyusut menjadi 130.252 hektare yang mencakup wilayah Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Mandailing Natal. Hingga Juni 2024, Martabe memiliki sumber daya 6,1 juta ons emas dan 59 juta ons perak, dengan cadangan 3,5 juta ons emas dan 32 juta ons perak.

Selain Martabe, Indonesia juga memiliki sejumlah tambang emas besar lain, di antaranya Grasberg, Batu Hijau, Tujuh Bukit, Pani, Pobaya, dan Toka Tindung.

Tambang Grasberg di Papua, yang dikelola PT Freeport Indonesia, merupakan salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia. Operasi tambang saat ini bertumpu pada Grasberg Block Cave, DMLZ, dan Big Gossan. Pada 2025, produksi tembaga Freeport mencapai 1,01 miliar pon. Studi terbaru memperkirakan cadangan hingga 2041 mencapai 8 miliar pon tembaga dan 8 juta ons emas.

Tambang Batu Hijau di Nusa Tenggara Barat dikelola PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Tambang ini memiliki cadangan 16,6 miliar pon tembaga dan 22,5 juta ons emas. Amman Mineral juga menyiapkan proyek eksplorasi Elang yang direncanakan mulai 2027 dan diproyeksikan menggantikan produksi Batu Hijau yang berakhir pada 2030.

Di Jawa Timur, Tambang Emas Tujuh Bukit milik PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melalui PT Bumi Suksesindo beroperasi sejak 2016. Proyek ini menyimpan sumber daya sekitar 8,2 juta ton tembaga dan 27,9 juta ons emas, menjadikannya salah satu deposit porfiri tembaga-emas terbesar yang belum dikembangkan di dunia.

Sementara itu, Tambang Pani di Gorontalo yang dikelola PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjadi salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia. Proyek ini memiliki sumber daya lebih dari 7 juta ons emas dan dirancang sebagai tambang terbuka berbiaya rendah dengan kapasitas pengolahan hingga 19 juta ton bijih per tahun.

Tambang Pobaya di Sulawesi Tengah dikendalikan PT Citra Palu Minerals, anak usaha PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Tambang ini memiliki cadangan 34,1 juta ton bijih emas dengan kadar 3,2 gram per ton dan izin produksi hingga 2050.

Adapun Tambang Toka Tindung di Sulawesi Utara dikelola PT Meares Soputan Mining dan PT Tambang Tondano Nusajaya, anak usaha PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). Per akhir 2020, tambang ini memiliki sumber daya 5,5 juta ons emas dan cadangan sekitar 3,9 juta ons emas.(DH)