Didukung Trump, Sanae Takaichi menang telak di pemilu Jepang

Senin, 09 Februari 2026

image

JAKARTA -  Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi meraih kemenangan telak dalam pemilu sela yang digelar pada Minggu (8/2) waktu setempat.

Partai Demokratik Liberal (LDP) yang dipimpinnya memenangkan mayoritas dua pertiga kursi dalam majelis rendah yang berpengaruh di negara tersebut.

Kemenangan Takaichi dan LDP ini membuka jalan bagi pemotongan pajak yang dijanjikan pemerintahannya, yang mengguncang pasar keuangan, dan membuka jalan bagi pengeluaran militer lebih besar yang bertujuan untuk menangkal China.

"Kami secara konsisten menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang bertanggung jawab dan proaktif," kata Takaichi kepada wartawan, setelah proyeksi media menunjukkan partainya menang dalam pemilu dini tersebut.

"Kami akan memprioritaskan keberlanjutan kebijakan fiskal. Kami akan memastikan investasi yang diperlukan," lanjut Takaichi, seperti dikutip Al Jazeera.

 Takaichi yang menjabat sebagai PM perempuan pertama Jepang sejak Oktober 2025, mengumumkan pada bulan lalu mengumukan akan menggelar pemilu sela musim dingin yang jarang dilakukan. Hal itu ia lakukan  untuk memanfaatkan popularitasnya yang meroket sejak dia diangkap memimpin LDP yang sejak lama berkuasa di Jepang.

Sebagai PM kelima Jepang dalam lima tahun terakhir, pertaruhan politik yang diambil Takaichi itu membuahkan hasil yang luar biasa.

Dikutip nbcnews, Takaichi, yang menjabat sejak Oktober setelah terpilih sebagai ketua LDP, menggelar pemilu di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan regional.

Jepang menghadapi tekanan dari China dan Korea Utara, sementara Amerika Serikat dinilai mulai mengalihkan fokus strategisnya. “Takaichi ingin memelihara aliansi yang sangat kuat dengan AS, tetapi juga membangun kemampuan pertahanan Jepang sendiri sebagai langkah antisipasi terhadap persepsi bahwa Amerika tidak lagi sepenuhnya dapat diandalkan,” kata Jeff Kingston dari Universitas Temple.

Hubungan Takaichi dengan Presiden AS Donald Trump terbilang dekat. Trump secara terbuka mendukung Takaichi, menyebutnya sebagai pemimpin yang “kuat, berwibawa, dan bijaksana”, serta menyatakan rencana pertemuan di Gedung Putih pada 19 Maret. Dukungan tersebut tidak lazim dalam politik internasional, namun menegaskan kedekatan keduanya.

Sebaliknya, hubungan Jepang–China memburuk setelah Takaichi menyatakan kemungkinan respons militer Jepang jika China menyerang Taiwan. Pernyataan itu menuai pujian dari kalangan nasionalis, namun memicu pembalasan ekonomi dari Beijing, termasuk larangan impor makanan laut Jepang.

“Ia telah melewati garis merah China, dan itu justru menguntungkannya,” ujar Kingston.

Meski berisiko, pemilu kilat ini sudah diprediksi menguntungkan Takaichi. Koalisi LDP berpotensi mengamankan lebih dari 300 kursi di parlemen, bahkan membuka peluang mayoritas tunggal. Popularitasnya melonjak, terutama di kalangan pemilih muda, meski skeptisisme publik terhadap LDP masih tinggi akibat skandal masa lalu.

Namun tantangan ke depan tidak kecil. Pasar keuangan khawatir kebijakan belanja agresif Takaichi akan memperlebar defisit fiskal, sementara pelemahan yen memperparah tekanan biaya hidup.

“Ia sering melontarkan pernyataan yang sangat agresif, tetapi kita belum benar-benar melihat pencapaian konkret yang dihasilkannya,” kata Hiromi Murakami dari Universitas Temple.

Tekanan eksternal dari China dan potensi friksi dagang lanjutan dengan AS juga membayangi pemerintahan Takaichi. Menurut Yuichi Hosoya dari Universitas Keio, kemenangan besar justru bisa menjadi bumerang.

“Jika ia memenangkan pemilu, kepercayaan dirinya akan meningkat tajam. Itu, menurut saya, justru akan menjadi kelemahan terbesarnya ke depan.” (DH)

Baca Juga: Mengapa janji PM Jepang Sanae Takaichi picu pasar global gelisah?