Scott Bessent: Tansaksi margin di China picu lonjakan harga emas dunia
Senin, 09 Februari 2026
WASHINGTON - Menteri Keuangan AS Scott Bessent menilai aktivitas perdagangan spekulatif berbasis margin trading di China menjadi salah satu pemicu utama gejolak tajam harga emas pekan lalu.
Ia menyebut pasar emas kini menunjukkan tanda-tanda spekulasi berlebihan.
“Pergerakan emas itu, situasinya sedikit tidak terkendali di China,” kata Bessent dalam wawancara dengan Fox News Sunday Morning Futures.
“Mereka sampai harus memperketat persyaratan margin. Jadi bagi saya, emas terlihat seperti contoh klasik ledakan spekulatif.”
Margin di sini merujuk pada fakta bahwa transaksi emas, baik secara global maupun di China, jauh lebih besar terjadi dalam bentuk kontrak di pasar futures dan derivatif dibandingkan transaksi fisik (cash and carry). Dalam skema ini, emas diperdagangkan sebagai komoditas finansial melalui mekanisme margin trading, di mana pelaku pasar cukup menyetor sekitar 10 persen dana untuk melakukan transaksi dengan nilai hingga sepuluh kali lipat lebih besar.
Bessent sendiri dikenal sebagai figur lama di dunia keuangan global. Sebelum menjabat Menteri Keuangan, ia pernah bekerja di Soros Fund Management dan menjadi salah satu eksekutif senior yang terlibat dalam pengelolaan strategi investasi makro global. Latar belakangnya sebagai mantan manajer hedge fund membuat pandangannya kerap menekankan dinamika pasar, perilaku spekulatif, serta peran leverage dalam membentuk volatilitas harga aset.
Seperti dikutip reuters.com, pernyataan itu disampaikan Bessent saat menanggapi reli harga logam mulia yang mencetak rekor sebelum berbalik arah secara tiba-tiba.
Reli tersebut didorong pembelian spekulatif, ketegangan geopolitik, serta kekhawatiran atas independensi Federal Reserve. Gejolak pasar itu turut mendorong dolar AS mencatat kenaikan mingguan pertamanya sejak awal Januari.
Sementara itu, Indeks Dow Jones Industrial Average menembus level 50.000 untuk pertama kalinya, mencerminkan optimisme investor terhadap ekonomi AS dan kinerja laba korporasi.
Menjelang pemilu paruh waktu pada November, Bessent menyebut rekor Dow Jones sebagai sinyal bahwa ekonomi AS memasuki fase kenaikan yang akan menguntungkan masyarakat luas.
Terkait kebijakan Federal Reserve, Bessent mengatakan bank sentral kemungkinan akan bergerak hati-hati dalam upaya memangkas neraca keuangannya.
“Saya tidak berharap mereka melakukan sesuatu dengan cepat,” ujarnya. “The Fed kini berada dalam rezim likuiditas ample yang memang membutuhkan neraca lebih besar. Saya kira mereka akan menunggu dan butuh setidaknya satu tahun untuk menentukan langkah selanjutnya.”
Bessent juga menegaskan bahwa Kevin Warsh, Calon Ketua Federal Reserve yang dinominasikan Presiden Donald Trump, akan bersikap independen, namun tetap menyadari bahwa The Fed bertanggung jawab kepada rakyat Amerika.
Dalam dengar pendapat Senat pekan lalu, Bessent mengatakan keputusan untuk menggugat Warsh, jika ia gagal menurunkan suku bunga sesuai keinginan Trump, sepenuhnya berada di tangan Presiden Trump.
Saat ditekan Senator Elizabeth Warren, Bessent menjelaskan pernyataan itu berasal dari candaan Trump, sembari membela kualifikasi Warsh dan menekankan ekspektasi presiden agar kebijakan suku bunga sejalan dengan pandangannya. (DK)