Siklus investasi lambat berpotensi hambat investor China masuk

Kamis, 28 Agustus 2025

image

JAKARTA – Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia, menyoroti siklus investasi di Indonesia yang masih kalah saing dengan negara lain di kawasan.

Todotua memberi contoh Vietnam, yang memiliki siklus investasi hanya berkisar 2-2,5 tahun, lebih singkat dibandingkan Indonesia yag mencapai 3-4 tahun.

Cycle investment kita ini, mulai dari dia masuk sampe dia realisasi, beroperasi, secara investasi ini masih sekitar 3-4 tahunan,” ujarnya, saat ditemui di gelaran OCBC One Connect 2025 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (27/8).

Padahal, dalam pemaparannya, Todotua menyebutkan bahwa cycle investment, yang terkait erat dengan kejelasan regulasi menjadi salah satu alasan dan penentu perusahaan asing—terutama dari China—masuk ke Indonesia.

“Kepastian, kondusif, bagaimana cycle berinvestasinya itu bisa terjadi dengan cepat, dan juga mengenai konteks daya saing. Itu yang menjadi request para potential investor dari luar negeri,” jelas Todotua.

Todotua juga menyoroti skor Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia, yang masih berada di level 6,7, jauh lebih tinggi daripada Vietnam di angka 4,6.

“Artinya apa? Banyak cost-cost komponen itu yang menyebabkan negara kita ini investasinya masih belum terlalu terlihat kompetitif atau mempunyai daya saing yang tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, memperbaiki iklim dan alur investasi ini masih menjadi tugas yang terus dikerjakan Kementerian Investasi, untuk menambah daya tarik Indonesia di mata pemodal.

“Kita selalu mengerjakan itu. Bagaimana kita mengintegrasikan agar semua proses perizinan, lokasi daripada investasi itu, menjadi mudah,” imbuhnya.

Tidak hanya perizinan dan lokasi, Todotua menambahkan, pada pemodal harus diberikan fasilitas pendukung hingga suplai energi yang terbaik, sehingga investasi dapat bertahan dan berlangsung secara berkelanjutan.

Hal ini menjadi PR besar di tengah gelombang investor China yang tengah mencari peluang relokasi dan/atau ekspansi ke Indonesia pascapolemik tarif impor AS.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi Indonesia, realisasi investasi China melonjak 31% dalam 6 tahun terakhir, didominasi sektor industri pengolahan logam dasar (44%), serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi (18%).

Realisasi investasi China di Indonesia, tanpa memperhitungkan investasi di sektor hulu migas dan keuangan, mencapai US$8,1 miliar di akhir 2024, dan kini menyentuh US$3,6 miliar pada semester I 2025.

Potensi relokasi dan ekspansi perusahaan China ke Indonesia ini juga diakui oleh Radhika Rao, Senior Economist Bank DBS.

“Dengan tarif efektif [impor AS] terhadap China sekitar 50%, lebih besar kemungkinan untuk mereka masuk ke kawasan ASEAN—bahkan Meksiko dan Amerika Latin,” ujarnya dalam Media Briefing Bank DBS, Rabu lalu (20/7).

Di sisi lain, Chief Economist Citi Indonesia, Helmi Arman, menyebutkan bahwa Indonesia harus tetap mencermati peluang relokasi investasi industri padat karya, termasuk manufaktur, lari ke luar kawasan Asia, misalnya Afrika.

“Karena banyak negara di Afrika ini yang mendapat tariff rate yang lebih rendah daripada di Asia; banyak yang mendapat 10%, dan tentunya industri padat karya ini relatif mudah untuk direlokasi,” jelas Helmi pada IDNFinancials.com pekan lalu (19/8).

Berdasarkan data IDNFinancials.com, realisasi investasi dalam maupun luar negeri per semester I 2025 mencapai Rp950 triliun—setara 48,85% dari target tahun 2025, yaitu US$119 miliar, atau sekitar Rp1,9 kuadriliun.

Todotua pun mengaku optimis dapat mencapai target tersebut.

Namun, ia juga mengaku optimisme ini harus disertai upaya Kementerian Investasi untuk mempersiapkan Indonesia menjadi negara destinasi investasi utama.

“Karena investasi menyumbang kontribusi 30% pada angka pertumbuhan. Jadi ini angka yang sangat signifikan sekali,” pungkasnya. (ZH)