Gen Z pelopori hapus medsos, aktivisme baru lawan kecanduan digital

Senin, 09 Februari 2026

image

JAKARTA – Generasi Z (Gen Z) kini memelopori bentuk aktivisme baru dengan cara menghapus atau membatasi penggunaan media sosial secara drastis.

Pergeseran perilaku ini muncul sebagai respons kritis terhadap paradoks privasi, kecanduan digital, dan manipulasi data oleh perusahaan teknologi raksasa (Big Tech).

Dikutip dari Psychology Today (7/2/2026), fenomena ini menandai titik balik dari kebiasaan generasi muda yang sebelumnya gemar membagikan detail intim kehidupan mereka secara daring.

Kini, tren "pembersihan" (cleanses) semakin menjamur di kalangan mahasiswa, di mana mereka mengambil jeda total dari platform digital untuk durasi tertentu.

Selain itu, teknik grayscaling mengubah tampilan layar ponsel menjadi hitam putih banyak diadopsi untuk menghilangkan efek visual memikat (eye candy) yang memicu respons otak layaknya kecanduan narkotika.

Gerakan ini didorong oleh kesadaran kolektif bahwa ancaman privasi terbesar sesungguhnya adalah penambangan data publik yang dilakukan oleh Big Tech.

Generasi muda mulai menyadari bahwa mereka dimanfaatkan sebagai komoditas data untuk memanipulasi perhatian dan opini. Narasi lama yang menyebut media sosial sebagai sarana mempererat kohesi sosial kini dianggap usang dan tidak lagi dipercaya, terutama di tengah banjirnya misinformasi, disinformasi, dan perilaku toksik di dunia maya.

Kelelahan akibat ketergantungan layar yang memuncak selama pandemi COVID-19 juga menjadi katalis utama perubahan ini. Laporan menunjukkan adanya lonjakan minat signifikan pada aktivitas dunia nyata (In Real Life/IRL), seperti konser, mendaki gunung, berkemah, dan interaksi tatap muka tanpa gangguan gawai.

Tren ini dimaknai sebagai upaya merebut kembali gaya hidup sosial yang lebih otentik layaknya era 90-an. (SF)