Krisis fiskal mengintai, utang Amerika dekati US$39 triliun
Selasa, 10 Februari 2026

JAKARTA - Utang nasional Amerika Serikat diperkirakan akan mendekati US$39 triliun pada pertengahan April, memicu kekhawatiran baru soal keberlanjutan fiskal dan risiko terhadap perekonomian jangka panjang. Laporan terbaru dari Kongres menunjukkan laju kenaikan utang mencapai rata-rata US$6,43 miliar per hari.
Beban bunga utang kini menyerap sekitar 13% dari total anggaran federal. Kondisi tersebut dinilai tidak berkelanjutan, terlebih defisit tahunan masih mendekati US$2 triliun.
“Utang nasional saat ini berada dalam situasi darurat yang sangat besar,” kata Brandon Arnold, wakil presiden eksekutif National Taxpayers Union. “Kita mendekati US$39 triliun dalam utang nasional. Ini adalah masalah keamanan nasional, ini adalah masalah ekonomi.”
Organisasi tersebut kembali mendorong penerapan amandemen anggaran berimbang dalam konstitusi guna memaksa disiplin fiskal di parlemen. Menurut mereka, pemerintah seharusnya tidak membelanjakan dana melebihi penerimaan pajak tahunan.
“Pada intinya, ini adalah gagasan yang cukup sederhana,” kata Arnold. “Kongres seharusnya tidak menghabiskan lebih banyak uang untuk pengeluaran daripada yang diterima melalui pendapatan pajak setiap tahunnya premis yang sama yang sudah dianut oleh sebagian besar keluarga dan bisnis.”
Survei terbaru menunjukkan mayoritas publik lebih memilih pemangkasan belanja ketimbang kenaikan pajak. Sebanyak 54% responden menilai pengurangan pengeluaran pemerintah sebagai solusi utama untuk mengatasi utang dan tekanan harga, sementara hanya 13% mendukung peningkatan pajak.
Sejumlah tokoh juga mengusulkan langkah alternatif. Administrator Centers for Medicare and Medicaid Services, Dr. Mehmet Oz, menyebut penundaan masa pensiun dapat memberi dampak signifikan bagi ekonomi.
“Jika mulai bekerja setahun lebih awal setelah lulus SMA, atau setahun lebih lambat dan tidak pensiun, itu akan menghasilkan sekitar 3 triliun dolar AS bagi perekonomian AS,” kata Oz dalam sebuah wawancara baru-baru ini, seraya berpendapat bahwa keuntungan tersebut dapat mengimbangi sebagian besar utang.
Sementara itu, pengusaha teknologi Elon Musk menilai teknologi kecerdasan buatan dan otomatisasi menjadi kunci mencegah krisis fiskal yang lebih dalam.
“Kita 100% akan bangkrut sebagai negara tanpa AI dan robot,” kata Musk dalam sebuah wawancara podcast baru-baru ini. “Tidak ada hal lain yang akan menyelesaikan utang nasional.”
Meski tim efisiensi pemerintahannya mengklaim telah menemukan miliaran dolar pemborosan dan penipuan, Musk mengakui pengurangan belanja dalam skala besar tetap sulit dilakukan untuk benar-benar menekan utang. (DH)
Baca Juga: Elon Musk: Amerika 1.000% bangkrut jika tak manfaatkan AI dan robot