Kredit tumbuh 11,9% di 2025, BBTN pasang target lebih rendah di 2026

Selasa, 10 Februari 2026

image

JAKARTA – Meski penyaluran kredit PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) tumbuh subur pada tahun 2025, Perseroan memasang target moderat 8-10% untuk tahun 2026.

Hingga akhir Desember 2025, BBTN membukukan penyaluran kredit hingga Rp400,6 triliun, naik 11,9% secara tahunan, atau melebihi target sebelumnya yaitu 7-9%.

Berdasarkan materi Analyst Meeting BBTN yang dipublikasikan Selasa (10/2), penyaluran kredit BBTN masih didominasi kredit perumahan hingga 82% dari total pinjaman sepanjang 2025.

Segmen KPR bertumbuh 8,7% menjadi Rp304,2 triliun, diikuti kredit perumahan lainnya yang tumbuh 5,1%. Namun, kredit konstruksi rumah justru anjlok 12,1%.

Di sisi lain, pertumbuhan penyaluran kredit paling signifikan terjadi pada segmen korporat, dengan pertumbuhan mencapai 70,7% menjadi Rp50,1 triliun.

Sebaliknya, segmen kredit komersial atau Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk UMKM ambles 8,9% menjadi Rp13,9 triliun, diikuti kredit konsumen yang tumbuh 5,4%

Dengan kredit yang tumbuh 11,9%, kualitas pinjaman BBTN tampak stagnan di level non-performing loan (NPL) gross sebesar 3,2%.

Selain itu, mengimbangi pertumbuhan kredit, BBTN mencatatkan kenaikan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 14,6% menjadi Rp437 triliun pada tahun 2025.

Namun, jika tidak menghitung Rp25 triliun tambahan dana setoran pemerintah, maka pertumbuhan DPK hanya mencapai 8,1%, sejalan dengan guideline 2025 di kisaran 8-10%.

Untuk tahun 2026, Perseroan menargetkan pertumbuhan DPK lebih lambat, yaitu berkisar di level 7-9%.

Seperti yang diberitakan IDNFinancials.com sebelumnya, BBTN membukukan laba bersih Rp3,5 triliun untuk tahun 2025, naik 16,4% secara tahunan, dan mempertahankan tren kenaikan selama lima tahun berturut-turut.

Sebagai catatan, BBTN baru merampungkan spin-off unit usaha syariahnya pada Oktober 2025 lalu, dan kini mulai dikenal sebagai PT Bank Syariah Nasional, bank syariah terbesar setelah PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) dengan total aset Rp75 triliun per akhir 2025. (ZH)