IHSG naik 1,24% meski FTSE tahan rebalancing, sinyal reversal menguat

Selasa, 10 Februari 2026

image

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,24% atau 99,86 poin ke level 8.131,74 pada perdagangan Selasa (10/2) hari ini, melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin kemarin.

Total transaksi di seluruh pasar mencapai Rp20,39 triliun, melibatkan 45,83 miliar lembar saham. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 557 saham mencatat kenaikan harga. Sementara 141 saham melemah dan 118 saham stagnan.

Analis Phintraco Sekuritas menilai kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia berangsur pulih, menyusul upaya reformasi pemerintah dan Self-Regulatory Organization (SRO), sesuai proposal penyedia indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Selain itu, analis Phintraco menilai penguatan IHSG juga didukung sentimen positif dari regional, di mana mayoritas indeks saham di beberapa negara kembali menguat.

“Rupiah juga berlanjut menguat di level Rp16,790/US$ di pasar spot, didukung oleh tren pelemahan Dolar AS,” tulis analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan kepada investor hari ini.

Seluruh indeks sektoral ditutup menguat, dengan kenaikan paling tinggi pada Consumer Cyclical (IDXCYCLIC) yang mencapai 2,95%.

Indeks saham lain seperti LQ45 juga menguat 1,03%, ISSI naik 1,62%, dan JII naik 1,90%.

Seperti disampaikan IDNFinancials.com sebelumnya, pasar saham Indonesia pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak di area konsolidasi, akibat sikap investor yang cenderung wait and see dan tekanan jual investor asing.

Pada perdagangan awal pekan ini, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih (net sell) Rp721,77 miliar dari pasar saham Indonesia. Total net sell asing sejak awal tahun pun bertambah menjadi Rp11,73 triliun sejak awal tahun.

Tingginya aksi jual asing di pasar saham tak lepas dari keputusan penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE, yang menahan rebalancing untuk saham-saham dari Indonesia.

Aksi jual pun meningkat setelah lembaga pemeringkat global seperti Moody’s merevisi outlook terhadap Indonesia, dari positif menjadi negatif pada pekan lalu. (KR)