Kesepakatan RI & Uni Eropa bayangi daya saing sawit Malaysia
Rabu, 11 Februari 2026

JAKARTA - Industri minyak kelapa sawit Malaysia menghadapi tekanan akibat pertumbuhan yang melambat, produktivitas yang stagnan, dan profitabilitas yang rendah.
Direktur Utama, Grup SD Guthrie Bhd, Mohd Haris Mohd Arshad, menyebut sektor kelapa sawit kini berada pada titik krusial.
Dalam Palm & Lauric Oils Price Outlook Conference (POC) ke-37 tahun 2026, Haris mengingatkan bahwa situasi saat ini berisiko menggerus posisi sawit sebagai minyak nabati, dengan biaya produksi rendah.
Di sisi lain, banyak perkebunan yang menua dan meningkatnya persaingan dari minyak nabati lain, terutama minyak kedelai. Laju produksi global minyak kedelai bahkan enam kali lebih tinggi dibandingkan sawit.
“Industri minyak sawit ini seperti terjepit di antara dua tekanan besar,” kata Haris, seperti dikutip The Edge Malaysia, merujuk pada kenaikan biaya domestik dan persaingan global yang semakin ketat.
Rata-rata peremajaan kebun sawit di Malaysia hanya sekitar 2% per tahun. Angka ini dinilai terlalu rendah, karena tingkat ideal seharusnya mendekati 5% agar produktivitas tetap terjaga.
Selain itu, ketergantungan pada tenaga kerja asing disebut sebagai risiko struktural bagi industri sawit di Malaysia. Untuk meningkatkan daya saing, Grup SD Guthrie mendorong percepatan mekanisasi.
Otomatisasi pekerjaan non-panen seperti pemeliharaan kebun, pemupukan, dan pengendalian hama dinilai dapat menekan biaya tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi. Sementara penggunaan bahan tanam unggul yang lebih cepat matang, juga diyakini dapat mendongkrak produksi.
Dalam diskusi yang sama, panel membahas dampak Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Uni Eropa (UE) dan Indonesia.
Sejumlah laporan menyebutkan minyak sawit olahan Indonesia berpotensi memiliki keunggulan harga 9–12,8% dibandingkan Malaysia.
Namun Haris menilai perjanjian dagang bukan satu-satunya faktor penentu daya saing. Perusahaan dengan operasi lintas negara memiliki fleksibilitas, dalam menentukan pasar tujuan ekspor.
CEO FGV Holdings Group, Datuk Fakhrunniam Othman, juga menyatakan pendekatan “wait and see” terhadap dampak CEPA, dengan menekankan bahwa harga bukan satu-satunya pertimbangan pembeli.
“Yang terpenting adalah hubungan, kualitas, persyaratan perdagangan, dan keandalan pasokan. Masih banyak faktor lain yang dapat meyakinkan rantai pasok dan mempertahankan permintaan saat ini,” ujar Fakhrunniam.
Sementara itu, negosiasi perjanjian perdagangan bebas antara UE dan Malaysia masih berlangsung.
CEO Malaysian Palm Oil Council, Belvinder Sron, optimis kesepakatan antara EU dan Malaysia dapat dicapai pada 2027. (DH/KR)