Ekspansi biodiesel RI ditunda, harga minyak sawit berpotensi melemah
Kamis, 12 Februari 2026

JAKARTA - Keputusan Indonesia menunda perluasan program biodiesel serta meningkatnya produksi dalam beberapa bulan ke depan, dinilai berpotensi menekan harga minyak kelapa sawit. Meski demikian, permintaan global saat ini tetap kuat dan melambatnya pertumbuhan produksi akan membatasi pelemahan harga, menurut para analis seperti dikutip Reuters. Produksi minyak sawit Asia Tenggara, yang menyuplai hampir 90% dari kebutuhan pasar global, diperkirakan naik tipis pada 2026. Kenaikan ini sejalan dengan membaiknya kondisi cuaca di Indonesia, sebagai produsen sawit terbesar dunia. Sebaliknya, produksi Malaysia yang merupakan produsen terbesar kedua, justru diproyeksi turun seperti . Proyeksi tersebut disampaikan para analis dalam konferensi industri di Kuala Lumpur pekan ini. Selain itu, pasokan sawit global diperkirakan meningkat setelah Indonesia menunda rencana penerapan mandatori campuran biodiesel 50% (B50). Langkah ini dinilai akan mengurangi serapan domestik terhadap minyak sawit. Analis Dorab Mistry memperkirakan kontrak berjangka minyak sawit Malaysia akan bergerak terbatas di kisaran 3.800–4.300 ringgit per ton hingga Juli 2026, dengan catatan tidak ada gangguan cuaca baru. “Saat ini kita berada pada periode produksi sawit yang paling rendah, namun penurunan stok belum terlihat signifikan,” ujarnya. Pada penutupan perdagangan Rabu, harga acuan minyak sawit Malaysia turun 35 ringgit atau 0,85% menjadi 4.060 ringgit per ton. Thomas Mielke, Direktur Eksekutif lembaga riset Oil World yang berbasis di Hamburg, menilai harga sawit masih berpotensi melemah dalam jangka pendek. “Dalam satu hingga dua bulan ke depan, masih ada peluang tekanan harga,” kata Mielke. Namun ia menambahkan bahwa dalam jangka menengah hingga panjang, perlambatan pertumbuhan produksi, potensi penurunan stok, serta terbatasnya pertumbuhan produksi Indonesia, justru akan menopang harga. Konsumsi minyak nabati global pada musim 2025/2026 diperkirakan meningkat 7,1 juta ton, sementara produksi hanya bertambah sekitar 5,3 juta ton. Produksi minyak sawit Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai 48,8 juta ton, sedangkan Malaysia sekitar 19,7 juta ton. Di sisi lain, penertiban perkebunan sawit ilegal oleh pemerintah Indonesia diperkirakan berdampak negatif terhadap produksi, akibat berkurangnya pemupukan dan perawatan kebun. Operasi penegakan yang dimulai sejak 2025 ini, telah menyita sekitar 4,1 juta hektare lahan sawit ilegal. Pemerintah bahkan telah meningkatkan target penyitaan lahan perkebunan ilegal hingga 4-5 juta hektar. “Impor pupuk turun hampir 20%. Ini menunjukkan bahwa di banyak lokasi, penggunaan pupuk berkurang, dan hal ini akan berdampak pada produktivitas dan produksi,” kata Mielke. Meski demikian, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia masih akan tumbuh 2–3% tahun ini, setelah melonjak 8% menjadi 51,98 juta ton pada 2025. (DK/KR)