Tembaga lanjut reli meski pembelian China menurun jelang Imlek
Kamis, 12 Februari 2026

JAKARTA - Tembaga melanjutkan reli didorong oleh prospek pasokan yang lebih ketat dan melemahnya dolar, meski pembelian dari China menurun menjelang libur Tahun Baru Imlek.
Seperti dikutip Bloomberg.com, investor tetap optimistis terhadap permintaan yang meningkat dari sektor manufaktur global, transisi energi hijau, dan kecerdasan buatan, di tengah keterbatasan pasokan akibat kualitas bijih yang menurun.
Dana spekulatif, termasuk dari China, turut memperkuat reli dalam beberapa bulan terakhir. Dolar yang lebih lemah membuat komoditas lebih murah dalam mata uang lain, sehingga mendukung kenaikan harga.
“Meski pembelian China menurun menjelang libur minggu depan, selera risiko investor internasional tetap tinggi,” kata Wu Kunjin, kepala riset logam dasar di Minmetals Futures Co.
Di China, volume perdagangan spot tembaga rafinasi turun menjadi 13.400 ton pada Rabu, dari puncak lebih dari 38.000 ton pada 2 Februari, menurut survei pabrik oleh konsultan Mysteel Global.
Selain itu, minat dan volume perdagangan tembaga di Bursa Berjangka Shanghai juga turun ke level terendah sejak November.
Namun, hingga pukul 10:43 pagi waktu Shanghai, tembaga naik 0,5% menjadi US$13.166,50 per ton di London Metal Exchange.
Nikel juga terpantau meningkat 0,6%, melanjutkan kenaikan setelah pemangkasan produksi di tambang terbesar dunia di Indonesia, PT Weda Bay Nickel milik konsorsium Tsingshan Holding Group Co, Eramet SA, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Terakhir, harga bijih besi juga naik 0,3% menjadi US$100,25 per ton di Singapura. (DK/ZH)