Hilmi Panigoro: MEDC ekspansi di Timur Tengah, gas jadi andalan energi
Jumat, 13 Februari 2026

JAKARTA - PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menyiapkan ekspansi agresif di Asia Tenggara dan Timur Tengah seiring proyeksi kenaikan permintaan energi, terutama gas untuk kebutuhan hilirisasi, pusat data, dan pembangkit listrik baru.
Dikutip reuters, tahun lalu, MEDC mengakuisisi blok Sakakemang dan South Sakakemang di Sumatra serta menaikkan kepemilikan di blok Corridor menjadi 70% senilai US$425 juta. Perseroan juga meraih kontrak bagi hasil Cendramas di Malaysia.
“Aktivitas hilirisasi (yang didorong oleh) pemerintah, pembangunan banyak pusat data, pembangkit listrik baru, semuanya membutuhkan gas baru,” kata Direktur Utama Medco Hilmi Panigoro.
“Terlepas dari tekanan besar perubahan iklim ini, kami masih optimis terhadap minyak dan gas, terutama di bagian dunia ini,” “Permintaan untuk semua energi berbasis fosil, baik itu batu bara, gas, atau minyak, masih terus meningkat.”
Pada 2024, Medco memproduksi sekitar seperlima gas nasional. Perusahaan memiliki 26 aset migas global dan mencatat pendapatan US$1,76 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.
Medco menargetkan produksi 170.000 barel setara minyak per hari (BOEPD) pada 2026, tertinggi sepanjang sejarah perseroan.
“Saya tidak berencana untuk hanya berdiam diri. Saya ingin berkembang... Jadi arah saya untuk pengembangan bisnis minyak dan gas adalah tetap agresif, menemukan cadangan baru sebanyak mungkin, akuisisi, eksplorasi, pengembangan, dan EOR (Enhanced Oil Recovery),” kata Panigoro.
MEDC menargetkan percepatan pengembangan blok Sakakemang dengan produksi perdana pada akhir 2027 untuk memenuhi permintaan di Sumatra dan Jawa. Medco juga memperluas operasi di Thailand, Oman, dan Tanzania.
Terkait isu lingkungan, Medco mengklaim telah menurunkan emisi CO2 sebesar 20% dalam lima tahun terakhir, meski produksi meningkat dua kali lipat.
“Dalam lima tahun terakhir, kami telah mengurangi emisi CO2 kami sebesar 20% - tetapi produksi kami berlipat ganda,” kata Panigoro. “Tantangan bagi perusahaan energi berbasis fosil seperti kami adalah memastikan kami melakukan itu, pada dasarnya membantu mengatasi masalah perubahan iklim ini.”
Selain migas, MEDC masuk ke bisnis bioetanol seiring rencana pemerintah mewajibkan campuran 10% bioetanol dalam bensin. Kebutuhan nasional diperkirakan mencapai 1,4 juta kiloliter. Pekan lalu, MEDC menandatangani kesepakatan dengan unit Pertamina untuk mengaktifkan kembali pabrik etanolnya.(DH)