Survei: Yield obligasi 10 tahun AS berpotensi tembus 4,29%
Jumat, 13 Februari 2026
JAKARTA - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor panjang diperkirakan masih stabil dalam waktu dekat, sebelum naik pada akhir tahun.
Kenaikan dipicu kekhawatiran inflasi yang bertahan tinggi serta isu independensi Federal Reserve (The Fed), berdasarkan survei Reuters terhadap 37 analis obligasi pada 5–11 Februari.
Dkutip reuters, sebanyak 21 responden menilai rencana pemotongan pajak dan peningkatan belanja Presiden Donald Trump akan mendorong penerbitan utang dalam jumlah besar. Kondisi itu dinilai menyulitkan The Fed untuk memangkas neraca yang saat ini sebesar US$6,6 triliun secara signifikan. Congressional Budget Office memperkirakan legislasi tersebut akan menambah defisit sedikitnya US$4,7 triliun dalam 10 tahun.
Median survei menunjukkan imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun diproyeksikan naik menjadi 4,29% dalam 12 bulan ke depan, lebih tinggi dari proyeksi bulan lalu sebesar 4,20%. Saat ini, yield 10 tahun bergerak di kisaran 4,0%–4,3% dan dinilai akan bertahan di rentang tersebut dalam beberapa bulan mendatang.
"Akan ada narasi bahwa inflasi sedang menuju penurunan dan The Fed akan memangkas suku bunga, dan begitu kita melihat bukti sebaliknya, itu akan menjadi semacam peringatan dengan volatilitas dalam jangka pendek. Itu akan menyebabkan premi inflasi dan risiko yang lebih tinggi sebagai akibatnya," kata Jean Boivin, Kepala BlackRock Investment Institute.
"Hal tersebut, ditambah latar belakang utang yang lebih luas, akan berkontribusi pada kenaikan bertahap imbal hasil tenor 10 tahun dan seterusnya."
Sementara itu, imbal hasil tenor pendek diperkirakan turun seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga. Survei terpisah memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini, dimulai Juni saat Kevin Warsh diproyeksikan menjabat Ketua The Fed. Yield obligasi tenor 2 tahun diperkirakan turun dari 3,50% menjadi 3,45% pada akhir April dan 3,38% pada akhir Juli.
The Fed telah memangkas neracanya dari hampir US$9 triliun pada pertengahan 2022 menjadi sekitar US$6,6 triliun dengan membiarkan obligasi jatuh tempo tanpa reinvestasi. Namun, sejumlah analis menilai pengurangan lebih lanjut akan sulit di tengah lonjakan penerbitan utang.
"Anda bergerak dalam dua arah berbeda jika memangkas suku bunga sekaligus berupaya menyusutkan neraca pada saat yang sama," kata Meghan Swiber, Direktur Strategi Suku Bunga AS di Bank of America.
"Meski banyak pertanyaan mengenai Warsh mengingat sikapnya yang lebih hawkish terhadap neraca, kami melihat kemungkinan yang relatif kecil hal itu benar-benar terwujud."
Alejandra Vazquez Plata dari Citi menilai Warsh kemungkinan akan memprioritaskan pemangkasan suku bunga sebelum mengurangi kepemilikan obligasi tenor panjang.
"The Fed mungkin akan membiarkan kepemilikan obligasi kupon jatuh tempo dan alih-alih membeli obligasi kupon, mulai membeli Treasury bills. Itu mungkin jalur dengan hambatan paling kecil untuk saat ini," ujarnya.(DH)