Malaysia gandeng gandeng 3 bank uji coba stablecoin ringgit

Jumat, 13 Februari 2026

image

JAKARTA – Bank Sentral Malaysia atau Bank Negara Malaysia (BNM) secara resmi terjun ke dalam pengembangan infrastruktur keuangan masa depan dengan meluncurkan tiga inisiatif utama terkait stablecoin mata uang lokal dan deposito yang ditokenisasi (tokenized deposits) pada tahun 2026.

Langkah strategis ini menempatkan Malaysia dalam peta persaingan inovasi aset digital di Asia, menyusul langkah serupa yang telah dilakukan oleh negara tetangga.

Dikutip dari The Block (11/2/2026), inisiatif ini dijalankan di bawah payung Digital Asset Innovation Hub (DAIH), sebuah platform uji coba regulasi (regulatory testbed) milik BNM yang dirancang khusus untuk mempromosikan inovasi terkait kripto.

Proyek-proyek tersebut akan berfokus pada penggunaan pembayaran grosir (wholesale payment), baik untuk transaksi domestik maupun lintas batas, guna menguji efisiensi dan keamanan teknologi tersebut dalam sistem perbankan riil.

Situs resmi DAIH merinci pembagian tugas dalam uji coba ini. Proyek pertama adalah inisiatif penyelesaian stablecoin Ringgit untuk segmen business-to-business (B2B) yang dipimpin oleh Standard Chartered Bank Malaysia bekerja sama dengan Capital A.

Sementara itu, dua proyek lainnya akan berfokus pada deposito token untuk pembayaran, yang masing-masing dipimpin oleh dua bank terbesar di Malaysia, yakni Maybank dan CIMB.

BNM menegaskan bahwa pengujian ini sangat krusial untuk menilai implikasi teknologi baru ini terhadap stabilitas moneter dan keuangan negara.

Bank sentral menargetkan untuk memberikan kejelasan regulasi mengenai penggunaan stablecoin Ringgit dan deposito token pada akhir tahun 2026, serta menjajaki kemungkinan integrasi inisiatif ini dengan pengembangan mata uang digital bank sentral (wholesale CBDC) yang sudah ada.

Langkah agresif Malaysia ini mencerminkan tren yang lebih luas di kawasan Asia, di mana ekonomi utama berlomba-lomba memperkuat infrastruktur aset digital mereka. Hong Kong telah menetapkan rezim lisensi stablecoin tahun lalu dan tengah menjalankan Project Ensemble untuk deposito token.

Singapura juga telah memiliki kerangka kerja stablecoin dan mempromosikan uji coba serupa lewat Project Guardian. Sementara itu, Jepang telah melihat peluncuran stablecoin JPYC yang dipatok ke Yen pada akhir 2025, serta uji coba pembayaran korporat oleh tiga megabank mereka: MUFGSMBC, dan Mizuho. (SF)