Spread yield terlebar sejak September, obligasi RI jadi menarik?

Jumat, 13 Februari 2026

image

JAKARTA - Lonjakan imbal hasil obligasi membuat Indonesia dinilai menarik untuk strategi jangka pendek. Hal itu terjadi setelah pasar mendapat tekanan beruntun dari keputusan MSCI dan Moody’s Ratings.

Dikutip bloomberg, premi atau selisih (spread) imbal hasil obligasi negara tenor 10 tahun Indonesia terhadap US Treasury naik mendekati 231 basis poin pada Selasa, tertinggi sejak September. 

[[ Spread itu adalah selisih yield obligasi RI berjangka 10 tahun yang capai 6,4%, sementara yield  US Treasury berjangka 10 tahun jauh lebih rendah, selesihnya  mendekati 231 bps. ]]

Kenaikan ini dipicu pemangkasan prospek kredit Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s pekan lalu. Sebelumnya, imbal hasil sudah bergerak naik di tengah kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal dan tata kelola di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Penurunan prospek tersebut terjadi beberapa hari setelah MSCI menyoroti isu investabilitas saham Indonesia dan memperingatkan potensi penurunan status menjadi pasar frontier.

“Obligasi pemerintah jangka panjang mungkin sudah cukup tergerus dan berpotensi berkinerja lebih baik secara taktis,” tulis Radhika Rao dan Eugene Leow, analis DBS Bank Ltd. 

“Banyak berita buruk mungkin sudah tercermin dalam aset rupiah.”

Pemerintah merespons dengan menyiapkan langkah stabilisasi. Otoritas berjanji meningkatkan transparansi struktur kepemilikan saham dan menggandakan porsi free float menjadi 15%. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen menjaga defisit anggaran tetap terkendali. Bank Indonesia juga menyatakan akan menjaga stabilitas pasar.

Sejumlah indikator menunjukkan kondisi mulai membaik. Indeks saham acuan dan rupiah menguat tiga hari berturut-turut hingga Rabu. Imbal hasil obligasi 10 tahun yang sempat menyentuh 6,47% tertinggi dalam enam bulan ditutup di 6,43%. Di sisi lain, imbal hasil US Treasury turun seiring meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

Pelaku pasar melihat peluang penyempitan selisih imbal hasil terhadap AS jika stabilisasi berlanjut. “Pasar untuk sementara memberikan apresiasi terhadap beberapa langkah yang baru saja diumumkan,” kata David Chao, Strategist Invesco Asset Management.

Moody’s tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level investment grade Baa2. Namun lembaga itu memperingatkan potensi penurunan peringkat jika terjadi peningkatan defisit yang berkelanjutan, pelemahan rupiah dan arus modal, atau memburuknya kondisi fiskal BUMN.

“Para investor masih mengharapkan reformasi yang lebih konsisten dan pro-bisnis yang dapat membangkitkan kembali minat asing terhadap aset-aset di Indonesia,” ujar Chao.

Data arus dana menunjukkan minat asing mulai kembali. Investor global mencatat pembelian bersih US$690 juta di pasar obligasi pekan lalu, terbesar sejak Agustus, meski terjadi penjualan bersih US$126 juta pada Senin. Secara bulan berjalan, investor asing masih mencatat posisi beli.

“Dari perspektif jangka pendek, pelebaran tersebut memang terlihat menarik,” kata Philip McNicholas, Ahli Strategi Kedaulatan Asia di Robeco Group.

“Mungkin perlu melebar hingga mendekati 250 basis poin sebelum terlihat sebagai peluang yang menggiurkan, terutama karena poin 10 tahun adalah yang paling aktif di pasar obligasi pemerintah Indonesia.” (DH)

Terkait: CDS Indonesia merayap naik tertinggi di Asia, pasar beri pesan apa?