Ghana krisis kakao, Ekuador dan Indonesia bersiap isi pasar?
Jumat, 13 Februari 2026

JAKARTA – Pemerintah Ghana menghadapi tekanan berat di sektor kakao, bahan baku utama coklat.
Pekan ini, Presiden John Dramani Mahama menggelar rapat kabinet darurat untuk membahas sejumlah persoalan krusial, mulai dari keterlambatan pembayaran kepada petani, masalah likuiditas di Ghana Cocoa Board (COCOBOD), hingga penurunan tajam produksi.
Selama puluhan tahun, Ghana konsisten berada tepat di belakang Côte d’Ivoire, produsen kakao terbesar Afrika, dan menyandang status pemasok kakao terbesar kedua dunia. Seperti dikutip Africa.businessinsider.com, komoditas ini menopang lebih dari 800.000 rumah tangga petani serta menjadi sumber devisa penting bagi negara tersebut.
Namun, produksi kakao Ghana terus merosot dalam beberapa musim terakhir. Pada Juni 2025, COCOBOD memberi sinyal bahwa Ghana berpotensi meleset dari target produksi musim 2024/2025. Setelah memangkas proyeksi dari 650.000 ton menjadi 617.500 ton pada Desember 2024, regulator memperkirakan panen tidak akan melampaui 600.000 ton.
Direktur Utama COCOBOD, Randy Abbey, pada 10 Juni 2025 menyatakan sekitar 590.000 ton telah terkumpul dengan sisa tiga bulan musim panen. “Saya rasa tidak banyak yang berubah melihat waktu yang tersisa hingga akhir musim,” ujarnya.
Perkembangan terbaru disampaikan Abbey dalam konferensi pers di Cocoa House, Accra, Jumat (6/2/2026). Ia mengungkapkan COCOBOD telah menjual lebih dari 530.000 ton kakao untuk musim berjalan, namun sekitar 50.000 ton masih tertahan di tangan petani.
Kondisi tersebut dipicu harga pembelian di tingkat petani yang dinilai tidak kompetitif, sehingga pembeli enggan menyerap pasokan.“Situasinya, biji kakao ada, tetapi tidak dibeli karena harganya terlalu mahal,” kata Abbey, seraya memastikan upaya percepatan pembayaran terus dilakukan.
Dengan demikian, proyeksi panen Ghana kini berada jauh di bawah rata-rata historis sekitar 800.000 ton, apalagi dibandingkan rekor lebih dari 1 juta ton pada musim panen raya 2020/2021.
COCOBOD menuding sejumlah faktor sebagai penyebab utama penurunan produksi, antara lain penuaan kebun, penyebaran Cocoa Swollen Shoot Virus, penambangan emas ilegal (galamsey), penyelundupan, serta gangguan cuaca terkait perubahan iklim.
Di sisi lain, para pesaing semakin agresif memperluas produksi. Ecuador memimpin di Amerika Selatan dengan proyeksi produksi lebih dari 650.000 ton pada musim 2025/2026 dan berpotensi mencapai 800.000 ton sebelum akhir dekade ini. Produktivitas kakao Ekuador rata-rata mencapai 800 kilogram per hektare, jauh di atas Afrika Barat yang masih di bawah 500 kilogram per hektare. Selain itu, petani Ekuador menerima sekitar 90% harga pasar dunia, dibandingkan 60–70% di Ghana dan Côte d’Ivoire.
Di Asia Tenggara, Indonesia, produsen kakao terbesar ketiga dunia, juga mencatat tren peningkatan. Dengan dominasi varietas Forastero dan sebagian Trinitario, Indonesia membukukan produksi 641.741 ton pada 2023 dan menjadi pemain utama di kawasan. Nilai ekspor mencapai US$47 juta, dan proyeksi global menunjukkan produksi Indonesia berpeluang tumbuh sekitar 30% menjadi 836.000 ton pada 2026, ditopang program pemerintah dan inisiatif swasta seperti Cocoa Life.
Sementara itu di Afrika Barat, Nigeria, yang kini berada di peringkat keempat dunia, menargetkan peningkatan produksi dari sekitar 340.000 ton menjadi 500.000 ton atau setara 6,5% pasokan global. Meski dukungan irigasi sepanjang tahun dan kebijakan negara berpotensi mendorong output, tantangan struktural masih membayangi. Kendati demikian, Nigeria dinilai berpeluang menantang posisi Ghana.
Per 12 Februari 2026, harga berjangka kakao global telah terkoreksi dari puncak historis 2024, namun tetap tinggi dan bertahan di kisaran pertengahan US$3.700 per ton berdasarkan kontrak berjangka ICE.
Menjawab volatilitas pasar, Konferensi Kakao Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 13 Februari 2026 dijadwalkan meresmikan International Cocoa Agreement yang baru guna mendorong keberlanjutan dan stabilitas harga.
Ke depan, kemampuan Ghana mempertahankan posisi sebagai produsen kakao terbesar kedua dunia akan sangat ditentukan oleh reformasi domestik serta kecepatan respons terhadap persaingan yang kian ketat dari Ekuador, Indonesia, dan Nigeria. (DK)