Moody’s pangkas rating INDY akibat rasio utang meningkat

Jumat, 13 Februari 2026

image

JAKARTA - Moody’s Ratings menurunkan peringkat Corporate Family Rating (CFR) PT Indika Energy Tbk (INDY) menjadi B1, dari sebelumnya Ba3.

Peringkat obligasi senior secured senilai US$455 juta yang jatuh tempo Mei 2029 juga diturunkan ke B1 dari Ba3. Sementara outlook dinaikkan menjadi stabil dari negatif.

“Penurunan peringkat ini mencerminkan metrik kredit Indika yang sudah tertekan, serta diperkirakan akan semakin melemah akibat meningkatnya belanja modal untuk proyek emas Awak Mas, di tengah harga batu bara termal yang masih lesu,” kata Anthony Prayugo, analis Moody's, dalam laporan yang disampaikan.

“Meskipun harga emas yang tetap tinggi akan mendukung perolehan laba setelah mulai beroperasi, perusahaan saat ini memiliki ruang terbatas untuk menambah utangnya dengan peringkat sebelumnya,” tambahnya.

Moody’s memperkirakan belanja modal proyek Awak Mas naik US$100–150 juta. Kenaikan ini sebagian besar akan dibiayai dengan tambahan utang, dengan estimasi peningkatan mencapai US$1,4 miliar pada 2026.

Sementara belanja modal INDY pada 2026 diperkirakan mencapai US$380 juta, termasuk sekitar US$300 juta untuk Awak Mas. Proyek tambang emas tersebut telah selesai sekitar 50% per Desember 2025, serta ditargetkan mulai memasuki tahap produksi uji coba pada akhir 2026.

Dengan asumsi harga emas US$3.000 per troi ons dan biaya produksi sekitar US$1.150 per troi ons, Awak Mas diproyeksikan menyumbang EBITDA sekitar US$130 juta kepada INDY.

Namun hingga tambang beroperasi penuh, kinerja kredit Indika masih bergantung pada anak usahanya, PT Kideco Jaya Agung, yang terdampak lesunya harga batu bara termal.

Dengan asumsi harga jual batu bara termal rata-rata US$51 per ton pada 2026, EBITDA Indika diperkirakan tetap di kisaran US$200 juta, relatif sama dengan 2025.

Leverage yang diukur dari rasio utang terhadap EBITDA diproyeksikan naik menjadi sekitar 7,0x pada akhir 2026, dari 6,0x pada akhir 2025. Perbaikan leverage menuju 4,0x diperkirakan terjadi pada 2027, setelah Awak Mas beroperasi penuh.

Moody’s juga mencatat potensi risiko kebijakan, termasuk kemungkinan pungutan ekspor batu bara, yang belum dimasukkan dalam proyeksi dan dapat menekan laba.

Di sisi lain, Moody’s menilai INDY masih memiliki likuiditas yang cukup untuk 12–18 bulan mendatang, didukung kas, fasilitas kredit yang belum ditarik, dan arus kas operasi.

Namun, kenaikan belanja modal diyakini akan mempersempit ruang terhadap batas perjanjian utang (covenant), khususnya rasio utang bersih terhadap EBITDA, yang tidak boleh melebihi 3,75x pada 2026.

Moody’s menyampaikan outlook stabil mencerminkan ekspektasi INDY dalam menghadapi risiko eksekusi proyek emas, serta akan mulai memberikan kontribusi pada laba perusahaan pada 2027.

Kenaikan peringkat dapat terjadi jika rasio utang terhadap EBITDA turun di bawah 4,0x dan rasio EBITDA terhadap bunga di atas 2,0x secara berkelanjutan. Sebaliknya, peringkat dapat kembali tertekan jika terjadi keterlambatan proyek, pembengkakan biaya, tekanan likuiditas, atau investasi yang agresif. (DH/KR)