Yield obligasi AS berjangka 2 tahun naik, JPMorgan rekomendasikan jual
Jumat, 13 Februari 2026

WASHINGTON - JPMorgan Chase & Co. merekomendasikan aksi jual obligasi pemerintah AS tenor dua tahun sebagai strategi taktis, dengan alasan prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap tangguh akan menyulitkan Federal Reserve untuk memangkas suku bunga secara agresif.
Dalam catatan yang dipimpin Jay Barry, para analis menyebut fundamental ekonomi AS masih kuat, mengutip dari Bloomberg.com, Jumat (13/2).
Mereka juga menilai akan sulit bagi Kevin Warsh, ketua The Fed, untuk langsung mengarahkan kebijakan Federal Open Market Committee sesuai keinginannya setelah resmi menjabat.
Pandangan JPMorgan ini muncul menjelang rilis data inflasi AS yang krusial pada Jumat, yang berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter.
Jika tekanan harga menunjukkan tanda-tanda mereda, permintaan terhadap obligasi tenor pendek yang sensitif terhadap kebijakan diperkirakan meningkat.
Imbal hasil (yield) Treasury berfluktuasi sepanjang pekan ini, dipengaruhi aksi jual saham teknologi serta data ketenagakerjaan AS yang kuat.
Kondisi tersebut memicu perdebatan tentang bagaimana Warsh, pilihan Presiden Donald Trump sebagai ketua The Fed berikutnya, akan mengelola kebijakan suku bunga.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Juli dan satu kali lagi sebelum akhir tahun.
Sebelumnya, sebelum rilis data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan, pasar hampir sepenuhnya memperhitungkan penurunan suku bunga pada Juni. Yield Treasury dua tahun naik dua basis poin menjadi 3,47% pada perdagangan Asia Jumat, setelah turun sekitar lima basis poin pada sesi sebelumnya.
Namun, tidak semua pihak sependapat dengan JPMorgan. Manajer hedge fund David Einhorn, salah satu pendiri Greenlight Capital, justru bertaruh bahwa The Fed di bawah kepemimpinan Warsh akan memangkas suku bunga “jauh lebih besar” dari yang saat ini diperkirakan pasar.
Ia mengaku telah membeli kontrak berjangka Secured Overnight Financing Rate (SOFR), mengantisipasi reli jika biaya pinjaman diturunkan lebih agresif.
JPMorgan memperkirakan inflasi inti AS (core CPI), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,39% pada Januari, didorong tekanan harga awal tahun serta memudarnya dampak sisa penutupan pemerintah federal.
Sementara itu, estimasi Bloomberg Economics berada di level 0,31%, sejalan dengan konsensus pasar.
“Kami menilai akan sulit bagi yield tenor pendek untuk turun signifikan dari level saat ini,” tulis para analis JPMorgan dalam laporan tersebut. (DK)