Di tengah ketegangan geopolitik, Iran luncurkan satelit Jam-e Jam 1

Sabtu, 14 Februari 2026

image

IRAN - Lembaga penyiaran nasional Iran berhasil meluncurkan satelit geostasioner khusus pertamanya, “Jam-e Jam 1”, yang terdaftar secara internasional dengan nama “Iran DBS”, menandai langkah strategis untuk memperkuat infrastruktur media berbasis antariksa negara tersebut.

Seperti dikutip dari presstv.ir, media penyiaran pemerintah Iran, Kamis (12/2), satelit ini dimiliki oleh Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) dan diluncurkan ke luar angkasa dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan. Satelit Jam-e Jam 1 ditempatkan ke orbit beberapa menit setelah peluncuran menggunakan roket pembawa Proton-M, bersama dengan sebuah satelit meteorologi Rusia.

Menurut Departemen Pengembangan Media dan Teknologi IRIB, Jam-e Jam 1 merupakan langkah teknis dan operasional pertama menuju penerapan teknologi penyiaran radio dan televisi interaktif generasi baru.

Satelit ini dirancang untuk mentransmisikan sinyal audio dan video interaktif ke stasiun penyiaran publik berbasis darat, sehingga menjadi fondasi bagi layanan penyiaran massal interaktif.

Berdasarkan rencana yang telah dijadwalkan, Jam-e Jam 1 akan dipindahkan dan distabilkan pada posisi orbit finalnya di 34 derajat Bujur Timur dalam waktu kurang dari tiga minggu. Slot orbit tersebut diperkirakan akan memberikan cakupan optimal bagi kebutuhan komunikasi IRIB.

Para pejabat menekankan bahwa Jam-e Jam 1 bersifat berorientasi aplikasi. Berbeda dengan satelit penyiaran langsung ke rumah (direct-to-home/DTH) yang dirancang untuk penerima rumah tangga, sinyal dari satelit ini memerlukan peralatan profesional dan khusus, serta tidak dapat diterima oleh penerima satelit rumahan biasa.

Proyek ini menjamin kerangka komunikasi yang diperlukan untuk mengonsolidasikan teknologi penyiaran interaktif di dalam lembaga penyiaran nasional, sekaligus membuka apa yang disebut para pejabat sebagai babak baru kemandirian teknis media nasional Iran di ranah berbasis antariksa.

Kepala Badan Antariksa Iran (Iranian Space Agency/ISA), Hassan Salariyeh, mengatakan awal bulan ini bahwa rencana tengah disusun untuk meluncurkan satelit tambahan dan meresmikan proyek-proyek antariksa baru sebelum akhir tahun kalender Iran saat ini pada 20 Maret.

Ia juga mengumumkan rencana pengungkapan prototipe utama sistem satelit Martir Qassem Soleimani, yang akan ditempatkan di orbit rendah Bumi dan disebut sebagai proyek konstelasi satelit pertama dari jenisnya di Iran dan dunia Muslim.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Iran memamerkan pencapaian terbarunya dalam teknologi antariksa pada Hari Teknologi Antariksa Nasional pada 3 Februari, termasuk pengungkapan satelit yang dikembangkan di dalam negeri, citra pertama yang diambil oleh satelit Paya yang baru diluncurkan, serta sebuah fasilitas antariksa baru.

Iran pertama kali memasuki arena antariksa global pada Februari 2009 dengan peluncuran satelit buatan dalam negeri Omid (Harapan) menggunakan roket Safir.

Sejak saat itu, meskipun menghadapi sanksi dari negara-negara Barat, Republik Islam Iran telah memperluas program antariksa sipilnya dan kini dianggap sebagai salah satu negara teratas di dunia yang mampu mengembangkan dan meluncurkan satelit.

>> Dual Use?

Peluncuran satelit ini dilakukan di tengah meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, yang oleh sebagian analis dinilai menambah sensitivitas geopolitik kawasan.

Sejumlah pemerintah Barat memandang program satelit Iran tidak semata sebagai proyek sipil, melainkan berpotensi bersifat “dual-use”. Sebab, teknologi yang digunakan mengirim satelit ke orbit sangat mirip dengan teknologi roket balistik, termasuk yang bisa dikembangkan menjadi rudal jarak jauh.

Misalnya, Departemen Luar Negeri AS pernah menyebut bahwa kendaraan peluncur satelit Iran memanfaatkan teknologi yang identik dan dapat dipertukarkan dengan rudal balistik, termasuk sistem jarak jauh seperti ICBM,  yang menunjukkan kekhawatiran bahwa program luar angkasa bisa mendukung kemampuan militer.

Kekhawatiran akan penggunaan teknologi dual-use tidak hanya datang dari AS, tetapi juga dari sekutu Eropa.

Pemerintah Prancis, Jerman, dan Inggris  dalam pernyataan bersama mengecam bahwa peluncuran satelit Iran menggunakan teknologi yang esensial untuk pengembangan sistem rudal balistik jarak jauh. Di sisi lain, peluncuran seperti itu dapat memberi peluang untuk menguji komponen yang relevan bagi program rudal Iran.

Meski pemerintah Iran bersikeras bahwa aktivitas luar angkasanya bersifat damai dan sipil, banyak analis global menilai bahwa tidak ada perbedaan teknis yang signifikan antara roket peluncur satelit dan rudal balistik jarak jauh, hanya tujuan akhirnya yang membedakan.

Argumentasi ini muncul karena kemampuan untuk meluncurkan muatan berat ke orbit sangat berkaitan dengan kemampuan mesin, navigasi, dan sistem kendali yang mirip dengan rudal besar, sehingga menimbulkan kekhawatiran atas potensi penggunaannya dalam konteks militer.

Pemerintah Iran secara konsisten menolak tuduhan dual-use bermuatan militer dan menegaskan bahwa program luar angkasa mereka sepenuhnya bersifat damai.

Melalui pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pengembangan dan peluncuran satelit dilakukan dalam kerangka hak sah negara berdaulat untuk eksplorasi ruang angkasa, serta tidak melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB.

Iran juga menegaskan bahwa resolusi terkait rudal balistik tidak secara hukum melarang peluncuran satelit untuk tujuan sipil.Media pemerintah Iran seperti IRNA dan Tehran Times juga menekankan bahwa tuduhan dual-use adalah narasi politis Barat yang berulang setiap kali Iran mencapai kemajuan teknologi.

Dalam beberapa laporan, Iran menyebut bahwa negara-negara Barat sendiri memiliki sejarah panjang penggunaan teknologi luar angkasa yang bermula dari militer, namun tidak pernah dikenai standar ganda seperti yang diterapkan terhadap Iran.

Iran menilai kekhawatiran Barat lebih mencerminkan ketakutan terhadap kemandirian teknologi Iran dibanding bukti konkret adanya tujuan militer tersembunyi. (YS/MT)

Terkait: 

1. Trump mengaku sulit capai kesepakatan dengan Iran, AS siapkan perang?

2. Internet angkasa Starlink lumpuh di atas langit Iran, mengapa?