AS longgarkan sanksi ekspor minyak Venezuela, terbatas 3 perusahaan?

Minggu, 15 Februari 2026

image

HOUSTON – Perusahaan minyak milik negara Venezuela, PDVSA, dalam dua pekan terakhir menolak menjual minyak kepada perusahaan yang tidak memiliki lisensi individual dari Amerika Serikat, menurut empat sumber dari perusahaan yang berupaya membeli kargo minyak.

Seperti dikutip Reuters, Jumat (13/2), kebijakan tersebut membatasi ekspor dan menghambat upaya Venezuela menguras tangki penyimpanan yang kini penuh.

Washington bulan lalu memberikan lisensi umum yang secara luas mengizinkan ekspor minyak Venezuela, serta lisensi individual kepada pedagang global Trafigura dan Vitol untuk mengekspor minyak senilai miliaran dolar.

Izin tersebut menyusul perpanjangan lisensi terbatas yang diberikan kepada Chevron tahun lalu untuk mengekspor minyak mentah Venezuela ke Amerika Serikat.

Venezuela sangat bergantung pada pendapatan ekspor minyak dan membutuhkan hasil penjualan tersebut untuk menjalankan pemerintahan.

Lisensi umum dimaksudkan untuk membebaskan perusahaan dari sanksi AS terhadap industri minyak Venezuela, yang telah dilonggarkan Washington sejak penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bulan lalu.

Namun, para pembeli minyak Venezuela mengatakan bahwa lisensi umum tersebut belum memfasilitasi perdagangan sebagaimana yang dibutuhkan. Sifat lisensi yang luas membuat banyak ketentuan terbuka untuk penafsiran, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang apa yang diizinkan dan apa yang dilarang, kata sumber-sumber tersebut.

Para eksekutif PDVSA memerlukan panduan spesifik dari pemerintah AS mengenai perusahaan mana yang dapat diajak berdagang serta ketentuan transaksi yang lebih jelas agar perusahaan negara itu dapat melacak kargo dan mengamankan hasil penjualan, menurut para sumber.

Bank-bank AS juga enggan membiayai transaksi perdagangan minyak Venezuela, kata tiga sumber, dengan alasan kompleksitas dan risiko kepatuhan dari skema lisensi yang berlaku.

“Beberapa bank mungkin tidak ingin mengambil risiko memproses transaksi berdasarkan lisensi tersebut, atau merasa aktivitas itu belum sepenuhnya diotorisasi,” kata salah satu sumber.

“Bank-bank kemungkinan melakukan uji tuntas tambahan.”

Keengganan perbankan tersebut untuk sementara tidak terlalu berdampak bagi para pedagang minyak global terbesar yang dalam beberapa tahun terakhir mencetak laba miliaran dolar dan memiliki likuiditas besar.

Namun, kondisi ini diperkirakan menyulitkan pelaku kecil dan menengah yang mempertimbangkan untuk terlibat dalam perdagangan minyak Venezuela.

Gedung Putih mengatakan kepada Reuters pada Jumat bahwa pemerintahan Trump telah menerbitkan sejumlah lisensi umum dengan kecepatan rekor menyusul tingginya minat perusahaan minyak dan gas untuk berinvestasi di infrastruktur energi Venezuela.

“Tim Presiden bekerja tanpa henti untuk menangani permintaan dari perusahaan minyak dan gas,” kata Taylor Rogers, Juru Bicara Gedung Putih.

Departemen Energi dan Departemen Keuangan AS, serta PDVSA, tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) di bawah Departemen Keuangan AS pada Jumat juga menerbitkan dua lisensi umum tambahan yang memungkinkan produsen minyak dan gas beroperasi di Venezuela.

Langkah ini, yang memungkinkan Chevron, BP, Eni, Shell, dan Repsol, serta perusahaan lain, memperluas aktivitasnya, menjadi pelonggaran sanksi yang menargetkan produksi terbesar sejauh ini.

Dalam dokumen tanya jawab yang dirilis pekan lalu, Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa transaksi penjualan minyak harus mengikuti ketentuan yang wajar secara komersial, atau konsisten dengan standar pasar dan industri yang berlaku.

Departemen tersebut juga menyebutkan bahwa lembaga keuangan dapat mengandalkan pernyataan nasabahnya bahwa transaksi tersebut sesuai dengan ketentuan Lisensi 46, kecuali jika lembaga tersebut mengetahui atau memiliki alasan untuk mengetahui sebaliknya. Namun, tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Sementara itu, sejumlah calon pembeli masih menunggu persetujuan kepatuhan internal sebelum bertransaksi dengan PDVSA, seiring Departemen Keuangan AS terus memperjelas ketentuan lisensi dari waktu ke waktu dan tim hukum mempelajarinya.

Lisensi umum untuk penjualan dan perdagangan minyak saat ini tidak mengizinkan negosiasi pelunasan utang menggunakan kargo minyak, berbeda dengan otorisasi sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan bagi banyak mitra PDVSA, yang tujuan jangka pendek utamanya adalah menagih kembali jutaan dolar piutang mereka.

Menurut jadwal ekspor PDVSA yang diperbarui pekan ini, Vitol, Trafigura, dan Chevron terus mengangkut porsi terbesar ekspor minyak Venezuela, meskipun perusahaan negara tersebut telah menggelar sejumlah pertemuan dengan perusahaan lain—termasuk kilang di AS dan negara lain—untuk menegosiasikan pembelian langsung.

Ekspor minyak Venezuela meningkat menjadi sekitar 800.000 barel per hari pada Januari, naik dari 498.000 barel per hari pada Desember, berdasarkan data pengapalan. Namun, volume tersebut masih berada di bawah rata-rata tahun lalu, sehingga belum memungkinkan pengurasan besar-besaran stok yang telah terakumulasi.

Para pedagang diperkirakan akan menjual kembali minyak Venezuela ke Eropa dan Asia, karena kilang di sepanjang Pantai Teluk AS kesulitan menyerap lonjakan cepat pengiriman minyak mentah Venezuela setelah jutaan barel minyak Venezuela dialihkan dari China dalam dua bulan terakhir. (YS)