Saham Bakrie-Salim dan Sinar Mas topang IHSG lewati pekan terburuk

Minggu, 15 Februari 2026

image

JAKARTA – Saham-saham konglomerasi kembali menjadi penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan, setelah indeks menghadapi penurunan 3 pekan yang berlangsung sejak akhir Januari 2026.

Dalam perdagangan sepekan terakhir (9-13 Februari 2026), IHSG menguat 3,49% dan ditutup di level 8.212,27.

Sebelumnya, IHSG turun 1,37% pada pekan ketiga dan 6,94% di pekan keempat Januari, serta berlanjut turun 4,37% pada pekan pertama Februari.

Penurunan tersebut bahkan menjadi yang terburuk sejak tensi geopolitik memanas di semester pertama 2025, saat Amerika Serikat (AS) mulai memberlakukan perang tarif dengan puluhan negara mitra—termasuk Indonesia.

Pada pekan kedua Februari 2026, sejumlah saham konglomerasi kembali menjadi penopang kenaikan IHSG.

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinar Mas mendorong IHSG naik 31,68 poin, setelah harga sahamnya dalam sepekan naik 10,48%.

Penopang IHSG berikutnya adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI), entitas tambang yang dikendalikan oleh Grup Bakrie dan Salim.

Saham BRMS menyumbang 20,16 poin dan BUMI 17,13 poin indeks, setelah harga sahamnya dalam sepekan naik masing-masing 14,29 dan 29,2%.

Sementara saham bluechips lain seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) terpantau berada di daftar Top Laggards atau pemberat bagi IHSG.

Meskipun IHSG telah pulih dari level terendahnya dalam hampir 6 bulan, aksi jual investor asing dari pasar saham Indonesia masih terpantau masif. Nilai net sell atau penjualan bersih yang dilakukan oleh investor asing tercatat sebesar Rp5,47 triliun dalam sepekan terakhir, serta Rp16,48 triliun sejak awal tahun ini.

Di kawasan Asia, kinerja IHSG sepekan juga lebih unggul dari indeks saham lain seperti VN-Index Vietnam yang hanya menguat 3,34%, ASX Australia 2,06%, KLCI Malaysia 0,39%, dan STI Singapura 0,07%. (KR)