Biayai defisit APBN Rp689,1 triliun, negara lelang SUN Rp33 triliun
Minggu, 15 Februari 2026

JAKARTA - Kementerian Keuangan akan kembali melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Rabu, 18 Februari 2026, dengan target meraih dana sebesar Rp33 triliun
Lelang SUN tersebut menawarkan sembilan seri dengan tingkat kupon mulai dari 5,87 persen dan dilelang dengan nominal per unit Rp1 juta.
Penawaran obligasi yang diterbitkan pemerintah tersebut ditargetkan meraup Rp33 triliun. Pada lelang sebelumnya atau 3 Februari 2026, penawaran yang masuk mencapai Rp76,5 triliun, dan yang berhasil dimenangkan adalah Rp36 triliun.
Mengutip laman resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, pemerintah melakukan lelang SUN dalam mata uang rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Lelang kali ini akan dibuka pada 18 Februari 2026 pukul 09.00 WIB dan ditutup pukul 11.00 WIB. Penjualan SUN tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Lelang bersifat terbuka (open auction), menggunakan metode harga beragam (multiple price).
Sembilan seri SUN yang akan dilelang adalah seri:
Pemerintah memiliki hak untuk menjual 9 seri SUN tersebut lebih besar atau lebih kecil dari jumlah indikatif yang ditentukan. Maksimal dimenangkan bisa mencapai 150 persen dari target indikatif Rp33 triliun.
Penawaran obligasi pemerintah merupakan bagian dari pembiayaan anggaran dan juga menalangi defisit APBN tahun ini yang ditargetkan mencapai Rp689,1 triliun.
Berdasarkan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara tahun anggaran 2026 atau UU APBN nomor 17 tahun 2025, pembiayaan utang tahun ini ditargetkan Rp832,2 triliun. Angkanya naik dibanding target tahun lalu yang sebesar Rp775,9 triliun.
Dalam konteks pasar keuangan, hasil lelang ini juga menjadi sorotan investor. Seperti diketahui pasar keuangan Indonesia tertekan setelah Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Sentimen tersebut memicu aksi jual di obligasi, saham, dan rupiah pada perdagangan Jumat (6/2).
Data Bloomberg menunjukkan imbal hasil (yield) SUN pada 6 Februari 2026 naik hampir di seluruh tenor. Yield SUN dengan tenor 1 tahun meningkat 3,7 basis poin mendekati 5%, tenor 2 tahun jadi 5,08%, dan tenor 3 tahun jadi 5,4%. Kenaikan terbesar terjadi pada tenor 4 dan 5 tahun yang melonjak masing-masing 8,7 bps dan 11 bps ke kisaran 5,8% atau mendekati 6%.
Seorang pengamat ekonomi menjelaskan bahwa menyusul penurunan outlook Indonesia oleh Moodys dari stabil menjadi negatif, maka perhatian pasar tertuju pada hasil lelang beberapa seri Surat Berharga Negara (SBN). Lelang SBN berfungsi sebagai real-time market test terhadap minat investor dan tingkat yield yang diminta pasar.
Permintaan yang solid berpotensi meredakan kekhawatiran, sementara hasil lelang yang lemah dapat memperkuat persepsi bahwa premi risiko Indonesia sedang meningkat.
Ke depan, pergerakan nilai tukar rupiah, hasil lelang SBN, serta komunikasi kebijakan fiskal akan menjadi indikator utama. Jika ketiganya menunjukkan stabilitas dan kredibilitas, tekanan pada Credit Default Swap (CDS) dan yield obligasi berpeluang mereda. Sebaliknya, ketidakpastian yang berlarut kemungkinan membuat pasar tetap berhati-hati. (YS)
Terkait: CDS Indonesia merayap naik tertinggi di Asia, pasar beri pesan apa?