Donald Trump punya ambisi besar atas minyak Venezuela

Senin, 16 Februari 2026

image

WASHINGTON - Presiden AS Donald Trump menyimpan ambisi besar terhadap cadangan minyak Venezuela, yang secara resmi merupakan terbesar di dunia, namun realisasinya dipertanyakan.

Setelah penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro bulan lalu, Trump berjanji membuka keran investasi minyak dan gas, memanfaatkan aturan baru yang melonggarkan investasi asing di sektor energi negara itu.

Seperti dikutip bbc.com, dalam pandangan Trump, langkah tersebut adalah peluang bisnis besar bagi perusahaan minyak AS.

“Kami akan mengekstraksi minyak dalam jumlah yang jarang terlihat,” ujarnya usai bertemu para eksekutif energi di Gedung Putih. Namun, pertanyaan kuncinya: apakah hitung-hitungan bisnisnya masuk akal?

Menurut William Jackson, kepala ekonom pasar berkembang di Capital Economics, tujuan Trump adalah menghidupkan kembali sektor minyak Venezuela untuk menambah pasokan global, menekan harga bagi konsumen, sekaligus memberi pemasukan bagi pemerintahan baru yang lebih bersahabat dengan AS. Tantangannya, kondisi lapangan sangat berat.

Perusahaan minyak nasional Venezuela, PDVSA, kini jauh dari masa jayanya. Pemerintahan Maduro dan pendahulunya, Hugo Chávez, lama “memerah” perusahaan itu untuk membiayai program sosial, namun mengabaikan investasi perawatan dan peningkatan produksi. Akibatnya, produksi merosot tajam, sebagian karena sanksi AS, namun terutama karena kelalaian bertahun-tahun.

“Infrastruktur yang ada telah terdegradasi akibat kurang perawatan,” kata Jackson. “Sepuluh hingga 15 tahun lalu, Venezuela memproduksi sekitar 1,5 juta barel per hari lebih banyak dibanding sekarang.”

Pandangan serupa disampaikan Monica de Bolle dari Peterson Institute for International Economics. Menurutnya, banyak fasilitas harus dibongkar total dan dibangun ulang.

“Secara teknis, opsi terbaik adalah merombak PDVSA dari nol, tapi itu sulit secara politik karena PDVSA adalah simbol kedaulatan,” ujarnya.

Trump meminta perusahaan minyak AS menanamkan setidaknya US$100 miliar untuk memulihkan infrastruktur, syarat mutlak sebelum ekspor bisa ditingkatkan.

Di atas kertas, potensi memang besar: Venezuela melaporkan cadangan 300 miliar barel. Namun pada 2023, ekspornya hanya 211,6 juta barel senilai sekitar US$4 miliar. Bandingkan dengan Arab Saudi, yang cadangannya lebih kecil (267 miliar barel) tetapi mencatat nilai ekspor US$181 miliar pada periode yang sama.

Masalah lain adalah keandalan data cadangan. Pada era Chávez, Venezuela mereklasifikasi cadangannya, angka “terbukti” melonjak hampir empat kali lipat berkat harga minyak tinggi kala itu, yang membuat proyek marginal tampak layak.

“Lonjakan statistik ini banyak dipertanyakan,” kata Jackson. Dengan harga minyak kini sekitar US$65 per barel, kalkulasi lama belum tentu berlaku.

Kualitas minyak Venezuela juga lebih buruk, berat, asam, dan bersulfur tinggi, sehingga lebih mahal diekstraksi dan diolah, serta berisiko merusak pipa. Kebangkitan produksi Venezuela berpotensi menekan produsen minyak berat lain seperti Kanada, meski analis menilai risikonya terbatas karena minyak Kanada masih kompetitif.

Di sisi SDM, krisis ekonomi telah mendorong hampir delapan juta warga hengkang, termasuk para insinyur andal PDVSA. Sistem kini berjalan dengan tenaga minimal.

Thomas Watters dari S&P Global Ratings menilai perusahaan AS punya kemampuan teknis memperbaiki infrastruktur Venezuela, tetapi hanya akan bergerak jika proyeknya benar-benar menguntungkan. (DK)