CEO otomotif barat peringatkan ancaman nyata mobil listrik China

Senin, 16 Februari 2026

image

JAKARTA - Dari “lereng licin” hingga “ancaman eksistensial”, para CEO otomotif Barat kompak memperingatkan bahaya persaingan dari China.

Produsen mobil Barat, mulai dari tiga raksasa Detroit hingga perusahaan kendaraan listrik murni, menyampaikan pesan serupa: pabrikan China dapat mengancam kelangsungan industri jika produksi domestik tidak dilindungi.

Aliansi industri, Alliance for Automotive Innovation (AAI), yang mewakili tiga besar otomotif AS dan sejumlah produsen lain, menyatakan bahwa China merupakan ancaman nyata bagi industri otomotif Amerika.

Dalam pernyataannya menjelang dengar pendapat DPR AS tentang kendaraan China pada Desember lalu, AAI mendesak Kongres mempertahankan larangan era Presiden Biden atas impor teknologi dan perangkat lunak tertentu dari China, yang secara efektif menghalangi masuknya kendaraan buatan pabrikan China.

Seperti dikutip finance.yahoo.com, sejumlah eksekutif perusahaan otomotif juga menegaskan kekhawatiran tersebut.

CEO Rivian, RJ Scaringe, mengatakan dalam jangka panjang ada dua faktor utama di balik daya saing China: struktur biaya modal yang sangat rendah karena subsidi besar pemerintah, serta biaya tenaga kerja yang jauh lebih murah dibandingkan AS.

Menurutnya, tarif yang berlaku saat ini memang membantu menyeimbangkan harga dan melindungi manufaktur AS, tetapi perlindungan itu tidak bersifat permanen.

CEO Ford, Jim Farley, juga menilai dominasi China yang kian meluas di pasar global tetap menjadi ancaman.

Meski kehadiran mobil China di AS masih terbatas, pangsa pasar mereka di Eropa meningkat tajam tahun lalu, bahkan di tengah tarif tinggi Uni Eropa terhadap kendaraan listrik asal China.

Farley sebelumnya menyebut mobil buatan China sebagai “ancaman eksistensial” bagi pasar otomotif AS, bukan hanya karena kemajuan teknologi, tetapi juga karena dukungan subsidi dan infrastruktur tenaga kerja yang menekan biaya produksi. Ia menekankan perlunya lapangan persaingan yang adil.

Di sisi lain, Ford dilaporkan sempat menjajaki pembicaraan kemitraan kendaraan listrik dengan Xiaomi dari China, meski kabar tersebut dibantah kedua pihak.

Laporan lain menyebut Ford juga berdiskusi dengan BYD terkait kerja sama baterai.

Sementara itu, CEO General Motors, Mary Barra, menyoroti keputusan pemerintah Kanada yang memungkinkan masuknya 49.000 kendaraan listrik buatan China per tahun. Ia menyebut kebijakan tersebut bisa menjadi “lereng licin” yang membuka jalan bagi tekanan kompetitif lebih besar dari merek-merek China. (DK)