Harga minyak turun 2% ke level terendah selama sebulan terakhir
Sabtu, 22 November 2025

NEW YORK - Harga minyak turun sekitar 2% pada Sabtu (22/11) ke level terendah dalam sebulan terakhir.Hal ini terjadi menyusul dorongan AS untuk mencapai kesepakatan damai Rusia-Ukraina yang berpotensi meningkatkan pasokan minyak global, sementara ketidakpastian suku bunga AS menekan selera risiko investor.Brent turun US$1,05 atau 1,7% menjadi US$62,33 per barel, sementara WTI merosot US$1,17 atau 2,0% menjadi US$57,83 per barel. Keduanya mencatat penurunan lebih dari 3% selama seminggu, menuju penutupan terendah sejak 21 Oktober.Sentimen pasar menjadi bearish karena Washington mendorong rencana perdamaian antara Ukraina dan Rusia untuk mengakhiri perang tiga tahun.Seperti dikutip reuters.com, sementara itu, sanksi terhadap produsen minyak Rusia Rosneft dan Lukoil dijadwalkan berlaku pada hari yang sama.Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan Ukraina menghadapi risiko kehilangan martabat dan kebebasan atau dukungan AS terkait rencana perdamaian yang mendukung tuntutan utama Rusia, yang menurut Presiden AS Donald Trump harus disetujui Kyiv pada Kamis.Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Rusia telah menerima proposal AS dan rencana itu bisa menjadi dasar penyelesaian damai konflik.Kesepakatan perdamaian bisa memungkinkan Rusia mengekspor lebih banyak bahan bakar. Rusia merupakan produsen minyak kedua terbesar dunia setelah AS pada 2024, menurut data energi federal AS.“Dengan berita pembicaraan perdamaian bersamaan dengan pemberlakuan sanksi AS terhadap dua perusahaan minyak terbesar Rusia, pasar minyak melihat sedikit keringanan risiko pasokan minyak Rusia,” kata Jim Reid, Managing Director Deutsche Bank.Namun, kesepakatan masih jauh dari pasti. Analis ANZ menilai, “Sebuah kesepakatan jauh dari kepastian, karena Kyiv berulang kali menolak tuntutan Rusia sebagai tidak dapat diterima."Pasar juga skeptis bahwa pembatasan terbaru pada Rosneft dan Lukoil akan efektif. Lukoil memiliki waktu hingga 13 Desember untuk menjual portofolio internasionalnya yang besar.Faktor lain yang menekan harga minyak adalah menguatnya dolar AS, yang mencapai level tertinggi enam bulan terhadap sekeranjang mata uang lain. Dolar yang lebih kuat membuat minyak berdenominasi dolar lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.
Terkait suku bunga AS, Presiden Fed Dallas Lorie Logan menyarankan untuk menahan suku bunga sementara bank sentral menilai dampak biaya pinjaman saat ini pada ekonomi.Presiden Fed Boston Susan Collins mengatakan kebijakan moneter saat ini tepat mengingat ekonomi tetap tangguh, menunjukkan skeptisisme terhadap pemangkasan suku bunga bulan depan.Sementara Presiden Fed New York John Williams menyatakan bank sentral masih bisa menurunkan suku bunga “dalam waktu dekat” tanpa mengganggu target inflasi.Penurunan suku bunga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.Dalam berita ekonomi lain, aktivitas manufaktur AS melambat ke level terendah empat bulan pada November, akibat harga tinggi karena tarif impor menekan permintaan, sehingga menumpuk barang yang tidak terjual dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. (DK)