Bitcoin anjlok ke US$60.000, kerugian tembus US$2 miliar
Senin, 16 Februari 2026

JAKARTA - Penurunan harga Bitcoin ke kisaran US$60.000 pada Februari 2026 menandai fase kapitulasi besar yang terjadi setelah tekanan jual bertahap sejak akhir 2025.
Laporan 10 Februari dari Checkonchain menyebut pergerakan tersebut sebagai peristiwa kapitulasi cepat dengan volume tinggi dan kerugian terealisasi besar yang mengubah psikologi pasar.
[[ Kapitulasi dalam konteks pasar keuangan kripto adalah fase ketika investor menyerah secara massal dan menjual asetnya, bukan lagi karena perhitungan rasional, melainkan karena tekanan psikologis antara lain seperti takut kerugian bertambah, kelelahan menunggu harga pulih dan hiilangnya keyakinan terhadap arah pasar. Ciri utama kapitulasi antara lain adalah: volume jual melonjak tajam, kerugian terealisasi besar dalam waktu singkat dan banyak investor menjual di harga yang sebenarnya tidak mereka inginkan.]]
Dikutip cryptoslate, menurut data on-chain, pasar kripto sebenarnya telah mengalami kapitulasi lebih awal pada November 2025. Perbedaan utama antara dua fase ini terletak pada identitas penjual.
Pada November 2025, sekitar 95% kerugian terealisasi berasal dari investor yang membeli Bitcoin sepanjang 2025. Kelompok ini melepas aset setelah menghadapi pergerakan harga yang stagnan selama hampir satu tahun.
Kapitulasi kedua terjadi pada Februari 2026, ketika tekanan jual meluas ke investor baru yang membeli di rentang US$80.000–US$98.000.
Data menunjukkan penjual pada fase ini terbagi relatif seimbang antara investor lama dan pembeli baru. Investor baru tersebut sebelumnya memperkirakan harga telah menyentuh dasar, namun akhirnya menjual saat harga turun lebih dalam.
Dalam satu hari, pemegang jangka pendek mencatat kerugian sekitar US$1,14 miliar, sementara pemegang jangka panjang mengalami kerugian sekitar US$225 juta. Secara bersih, laju kerugian terealisasi mencapai sekitar US$1,5 miliar per hari pada periode terberat. Baik November 2025 maupun Februari 2026 masing-masing mencatat kerugian terealisasi harian di atas US$2 miliar.
Lonjakan tekanan jual di Februari juga tercermin dari peningkatan tajam volume perdagangan di seluruh instrumen. Volume spot harian mencapai sekitar US$15,4 miliar.
Volume perdagangan mingguan ETF Bitcoin mencetak rekor sekitar US$45,6 miliar. Volume futures melonjak ke lebih dari US$107 miliar per hari, sementara volume opsi naik ke sekitar US$12 miliar per hari.
Laporan tersebut menilai bahwa penurunan ke US$60.000 bukan sekadar reaksi teknikal, melainkan hasil pembersihan dua kelompok investor sekaligus:
Sebagai acuan pemulihan, harga terealisasi Bitcoin berada di sekitar US$55.000, sementara rata-rata nilai pasar berada di kisaran US$79.400. Pergerakan harga setelah kapitulasi diperkirakan akan berlangsung di antara dua level tersebut, seiring pasar mencerna tekanan kerugian dan membangun kembali minat risiko secara bertahap.(DH)