Kekhawatiran AI tekan saham teknologi hingga keuangan

Selasa, 17 Februari 2026

image

JAKARTA - Pasar saham pekan lalu mendapat gambaran nyata tentang seberapa besar dampak kekhawatiran investor terhadap kecerdasan buatan (AI) bagi berbagai industri.

Gejolak yang awalnya menghantam saham-saham perangkat lunak dengan cepat merembet ke sektor manajemen kekayaan, transportasi, dan logistik, memicu pertanyaan tentang seberapa dalam AI dapat mengubah bukan hanya industri teknologi, tetapi juga bisnis jasa berbiaya tinggi.

Dilansir dari finance.yahoo.com, sepanjang pekan, indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq Composite sama-sama melemah lebih dari 1%.

Tekanan datang dari sektor jasa keuangan, konsumsi siklikal, dan teknologi yang dijual investor karena kekhawatiran terkait AI.

Dow Jones Industrial Average turun 1,2% dalam sepekan, sementara Nasdaq merosot 2% dan S&P 500 melemah 1,4%.

“Ini sisi gelap AI,” kata Tim Urbanowicz, kepala strategi investasi di Innovator Capital Management, kepada Yahoo Finance. Ia menilai disrupsi ini berpotensi meluas ke industri lain dan menjadi ancaman nyata bagi model bisnis yang ada.

Tekanan pasar terlihat jelas pada saham logistik, setelah sebuah perusahaan berbasis Florida mengumumkan alat baru yang mampu meningkatkan volume pengiriman tanpa menambah jumlah karyawan.

Kekhawatiran serupa juga menekan saham manajemen kekayaan menyusul peluncuran alat pajak berbasis AI yang memungkinkan penasihat menyesuaikan strategi klien secara otomatis, memicu ketakutan bahwa otomatisasi akan menekan biaya dan margin jasa konsultasi yang selama ini tinggi.

Fenomena yang dijuluki “AI scare trade” kini menyebar ke berbagai sektor. Saham perangkat lunak sudah lebih dulu terpukul dalam beberapa pekan terakhir, seiring kekhawatiran bahwa AI dapat mengambil alih tugas-tugas yang selama ini menjadi andalan raksasa perangkat lunak enterprise dan mengganggu model pendapatan mereka.

Bahkan, ETF sektor perangkat lunak teknologi telah turun tajam sepanjang tahun berjalan.Meski demikian, sebagian pelaku pasar menilai aksi jual ini berlebihan. Urbanowicz menilai margin keuntungan perusahaan di sektor tersebut masih sangat tinggi dan valuasi belum sepenuhnya menyesuaikan.

Namun ia tetap melihat latar belakang pasar yang mendukung, dengan proyeksi S&P 500 berpeluang mencapai 7.600 pada akhir tahun.

Optimisme itu ditopang oleh faktor kebijakan, mulai dari lingkungan regulasi yang kondusif, insentif pajak korporasi, hingga kepemimpinan sektor lain seperti energi, barang kebutuhan pokok, dan material yang mencatatkan kenaikan dua digit sepanjang tahun, kontras dengan kinerja teknologi yang relatif tertinggal.

Amanda Agati, CIO di PNC Asset Management Group, menyarankan investor untuk melihat gambaran yang lebih luas.

Menurutnya, volatilitas saat ini bersifat jangka pendek dan sebaran kinerja pasar yang masih sehat memberi keyakinan bahwa reli saham tetap berkelanjutan meski tahun ini akan bergejolak.

Sejalan dengan itu, para ahli strategi di UBS Global Wealth Management menyarankan investor melirik sektor di luar teknologi untuk menavigasi risiko sekaligus menangkap potensi manfaat AI lintas industri.

Mereka menilai perusahaan yang aktif memanfaatkan AI untuk meningkatkan operasional dan mengembangkan model bisnis, terutama di sektor keuangan dan Kesehatan, berpeluang menjadi pemenang dalam jangka menengah hingga panjang. (DK)