Garda Revolusi latihan di Selat Hormuz, Iran: AS mulai lebih realistis

Selasa, 17 Februari 2026

image

GENEVA – Iran mengatakan pada 16 Februari bahwa posisi Amerika Serikat terkait program nuklir Iran telah bergerak ke arah yang lebih realistis, sehari sebelum putaran kedua perundingan AS–Iran digelar di Jenewa.

Seperti dikutip The Strait Times, Minggu (17/2), Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi tiba di Jenewa untuk mengikuti putaran baru perundingan tidak langsung dengan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, Garda Revolusi Iran memulai latihan militer di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dan gas dunia.

Kedua negara kembali menggelar perundingan tidak langsung yang dimediasi Oman, setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam tindakan militer terhadap Iran menyusul penindakan berdarah terhadap demonstrasi anti-pemerintah pada Januari.

Dalam mekanisme perundingan ini, delegasi Amerika Serikat dan Iran tidak bertemu secara langsung. Perwakilan masing-masing negara bertemu secara terpisah dengan mediator Oman, yang kemudian menyampaikan pesan dan posisi kedua pihak.

Upaya perundingan sebelumnya sempat runtuh ketika Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran, memicu perang selama 12 hari. Amerika Serikat kemudian turut terlibat secara singkat dengan melancarkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran.

“Penilaian yang berhati-hati adalah bahwa, dari pembahasan yang sejauh ini berlangsung di Muscat, setidaknya berdasarkan apa yang disampaikan kepada kami, posisi AS mengenai isu nuklir Iran telah bergerak ke arah yang lebih realistis,” kata Esmaeil Baqaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, seperti dikutip kantor berita resmi IRNA.

Perundingan yang dimediasi Oman dijadwalkan berlangsung pada 17 Februari di Swiss. Washington sebelumnya mendorong agar isu lain turut dibahas, termasuk program rudal balistik Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.

Televisi pemerintah Iran melaporkan, latihan perang yang dilakukan Garda Revolusi, sayap ideologis militer Iran, bertujuan mempersiapkan diri menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer di Selat Hormuz. Sejumlah politisi Iran sebelumnya berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global, seiring meningkatnya tekanan menjelang dimulainya kembali perundingan.

Di pihak lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan peluang tercapainya kesepakatan tetap ada, meski ia menegaskan proses tersebut tidak akan mudah.

“Saya pikir ada peluang untuk mencapai kesepakatan secara diplomatis yang membahas hal-hal yang kami khawatirkan. Namun saya juga tidak ingin melebih-lebihkannya,” kata Rubio saat berkunjung ke Budapest.

“Ini akan sulit. Sangat sulit bagi siapa pun untuk membuat kesepakatan nyata dengan Iran, karena kita berurusan dengan pihak yang membuat keputusan berdasarkan pertimbangan teologis, bukan geopolitik,” ujarnya.

Dikutip GeoNews, pernyataan Rubio disampaikan di tengah peningkatan tekanan militer Washington. Amerika Serikat, yang sebelumnya bergabung dengan Israel dalam serangan udara ke Iran pada Juni, telah memerintahkan pengerahan kelompok kapal induk kedua ke Timur Tengah.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menulis di platform X bahwa ia telah bertemu di Jenewa dengan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi untuk melakukan diskusi teknis mendalam.

Grossi mengonfirmasi pertemuan tersebut, menyebut pembicaraannya dengan Araghchi sebagai “mendalam” menjelang perundingan penting pada 17 Februari.

Selain itu, Araghchi juga dijadwalkan menggelar pembicaraan dengan mitranya dari Swiss dan Oman, serta sejumlah pejabat internasional lainnya, menurut Kementerian Luar Negeri Iran.

“Saya berada di Jenewa dengan gagasan-gagasan nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan setara. Yang tidak ada di atas meja adalah penyerahan diri di bawah ancaman,” tulis Araghchi di X.

Gedung Putih pada 15 Februari mengonfirmasi bahwa Washington telah mengirim utusan khusus Timur Tengah Steve Witkoff serta menantu Presiden Trump, Jared Kushner, untuk terlibat dalam proses diplomatik tersebut.

Pada 13 Februari, Trump mengatakan perubahan pemerintahan di Iran akan menjadi “hal terbaik yang bisa terjadi”, sembari memerintahkan pengerahan kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah guna meningkatkan tekanan militer.

Pernyataan itu disampaikan menjelang demonstrasi menentang otoritas ulama Iran yang terjadi di sejumlah kota, termasuk di Amerika Serikat, pada akhir pekan. Di dalam negeri, warga Iran juga terus menentang penindakan mematikan terhadap aksi protes Januari lalu dengan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dari jendela rumah mereka.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi mengatakan kepada BBC bahwa Teheran bersedia mempertimbangkan kompromi terkait persediaan uranium jika Washington mencabut sanksi yang telah melumpuhkan perekonomian Iran.

“Jika kami melihat ketulusan dari pihak Amerika, saya yakin kami akan berada di jalur menuju sebuah kesepakatan,” ujarnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 15 Februari menyatakan bahwa kesepakatan apa pun harus mencakup pemindahan seluruh uranium yang telah diperkaya dari Iran serta penghapusan kemampuan Teheran untuk melakukan pengayaan uranium.

Keberadaan persediaan Iran sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen masih belum diketahui. Para inspektur IAEA terakhir kali melihat stok tersebut pada Juni.

Kekhawatiran Amerika Serikat dan sekutunya didasarkan pada perkembangan teknis program nuklir Iran. Laporan terbaru IAEA menyebut Iran telah memperkaya uranium hingga tingkat 60 persen—jauh di atas batas 3,67 persen yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA).

IAEA juga terus menuntut kejelasan mengenai keberadaan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya tinggi pascaserangan udara tahun lalu, serta dimulainya kembali inspeksi di fasilitas Natanz, Fordow, dan Isfahan.

Eskalasi militer dan kebuntuan tuntutan kedua pihak menempatkan perundingan nuklir di bawah bayang-bayang konflik terbuka. Sebelum serangan Amerika Serikat pada Juni, perundingan nuklir AS–Iran telah mengalami kebuntuan akibat tuntutan Washington agar Teheran menghentikan pengayaan uranium di wilayahnya, yang dipandang sebagai jalur menuju pengembangan senjata nuklir.

“Kita sebenarnya bisa memiliki kesepakatan alih-alih mengirim B-2 untuk melumpuhkan potensi nuklir mereka. Namun kita harus mengirim B-2,” kata Trump, merujuk pada pesawat pengebom siluman AS yang digunakan dalam serangan tersebut. “Saya berharap mereka akan lebih masuk akal.”

Pernyataan itu kontras dengan komentar Trump sebelumnya, ketika ia mengisyaratkan kemungkinan perubahan rezim di Iran dan menyatakan kekecewaannya atas puluhan tahun perundingan yang gagal. (DH)

Terkait: Kapal AS dan Israel diminta hindari jalur sempit Selat Hormuz