CEO Goldman Sachs dan BofA: Prospek ekonomi 2026 masih kuat

Rabu, 18 Februari 2026

image

JAKARTA - Di tengah maraknya kekhawatiran resesi pada tahun ini, Goldman Sachs dan Bank of America (BofA) justru menyampaikan pandangan yang berlawanan.

CEO Goldman Sachs, David Solomon, menilai prospek ekonomi menuju 2026 masih terlihat solid.Seperti dikutip The Street, dalam wawancara terbarunya dengan CNBC, Solomon menyebut kondisi makro saat ini “cukup baik”.

Ia menunjuk kuatnya dukungan fiskal, masifnya investasi modal berbasis kecerdasan buatan (AI), serta iklim bisnis yang semakin kondusif sebagai faktor utama penopang ekonomi.Menurutnya, aktivitas strategis korporasi juga mulai meningkat signifikan. Perusahaan kembali berani membayangkan transaksi besar, diskusi seputar IPO semakin ramai, bahkan beberapa penawaran saham berpotensi mencetak rekor dari sisi nilai.Nada optimistis ini jelas kontras dengan sentimen negatif yang belakangan mendominasi pemberitaan ekonomi.Optimisme serupa juga datang dari Bank of America. CEO BofA, Brian Moynihan, menyebut data internal perusahaannya menunjukkan aktivitas konsumen pada Januari tumbuh hampir 5% dibandingkan tahun lalu. Belanja konsumen terus meningkat di berbagai kelompok pendapatan.Jika disatukan, pesan dari para petinggi Wall Street cukup jelas: meski pertumbuhan tidak merata, roda ekonomi masih terus berputar.Kinerja bank-bank besar pun menguatkan narasi tersebut. Para pemain utama industri, termasuk Goldman Sachs dan JPMorgan, mencatatkan pendapatan yang solid.

Mereka berhasil menjaga pertumbuhan fee, melindungi margin, serta mengelola risiko kredit dengan efisien di tengah kondisi ekonomi yang menantang.Hal ini mencerminkan pipeline bisnis dan aktivitas klien yang jauh lebih tangguh dibandingkan gambaran suram di headline media.Laporan keuangan kuartalan terbaru Goldman Sachs menjadi contoh nyata. Bank ini mencatatkan laba yang melampaui ekspektasi, meski dibayangi dampak khusus dari keluarnya bisnis Apple Card.Secara keseluruhan, mesin inti bisnis Goldman tetap kuat. Tekanan pada pendapatan lebih disebabkan oleh faktor akuntansi sementara, sehingga kinerja fundamental terlihat lebih sehat dibandingkan angka headline. (DK)