Raja mobil listrik Tesla runtuh di China, peta EV global berubah
Rabu, 18 Februari 2026

JAKARTA – Dominasi Tesla di pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terbesar di dunia mengalami guncangan serius pada awal 2026.
Penjualan ritel domestik produsen asal Amerika Serikat itu di China dilaporkan anjlok 45 persen secara year-on-year (YoY) menjadi hanya 18.485 unit pada Januari 2026. Angka ini menjadi titik terendah penjualan Tesla di China sejak November 2022.
Penurunan tajam tersebut mengindikasikan pergeseran fungsi Giga Shanghai—dari pabrik yang melayani permintaan domestik menjadi pusat ekspor global.
Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan kontras mencolok antara produksi dan penyerapan pasar lokal. Meski penjualan grosir (wholesale) Tesla justru naik 9,3 persen YoY menjadi 69.129 unit, mayoritas kendaraan tersebut tidak dijual di dalam negeri.
Sebanyak 50.644 unit, atau 73 persen dari total produksi, diekspor ke luar China—melonjak 71 persen YoY. Data ini dikutip dari Electrek (12/2/2026).
Analis otomotif Fred Lambert menilai strategi ekspor tersebut sebagai upaya menutupi melemahnya permintaan lokal. “Tesla semakin menggunakan pabrik Shanghai sebagai pusat ekspor ketimbang untuk memenuhi permintaan China,” tulis Lambert.
Data historis empat tahun terakhir memperjelas tren merosotnya minat konsumen China terhadap Tesla. Berdasarkan pola penjualan Januari, porsi ekspor terus meningkat seiring menyusutnya penjualan domestik:
Januari 2023: Ekspor 59%, ritel domestik 26.843 unit
Januari 2024: Ekspor 44%, ritel domestik 39.891 unit
Januari 2025: Ekspor 47%, ritel domestik 33.703 unit
Januari 2026: Ekspor 73%, ritel domestik 18.485 unit
Penurunan dari hampir 40.000 unit pada 2024 menjadi di bawah 19.000 unit dua tahun kemudian mencerminkan kontraksi pasar sebesar 54 persen.
Tekanan eksternal turut memperburuk kondisi. Lonjakan penjualan pada Desember 2025—mencapai 93.843 unit—ternyata bersifat sementara, dipicu efek pull-forward menjelang pemberlakuan kembali pajak pembelian 5 persen untuk kendaraan energi baru (NEV) per 1 Januari 2026.
Pajak tersebut sebelumnya dibebaskan selama satu dekade. Selain itu, berakhirnya program subsidi tukar tambah kendaraan di banyak kota besar sejak pertengahan November juga menekan daya beli konsumen.
Namun, tantangan terbesar Tesla datang dari kompetisi produk. Model Y kini terlempar ke peringkat 20 mobil penumpang terlaris di China, dikalahkan pendatang baru Xiaomi YU7 yang terjual 37.869 unit—lebih dari dua kali lipat total penjualan ritel Tesla di bulan yang sama.
Di segmen sedan, Xiaomi SU7 membukukan pengiriman lebih dari 22.000 unit, jauh melampaui Model 3 yang hanya terjual sekitar 8.000 unit.
Sementara itu, raksasa lokal BYD, meski mengalami penurunan bulanan, tetap mencatatkan penjualan 210.051 unit.
Lambert menggambarkan jurang ini dengan tajam: “Angka 18.485 unit milik Tesla berada di semesta yang benar-benar berbeda dibanding dominasi BYD.”
Menanggapi tekanan tersebut, Tesla meluncurkan berbagai insentif agresif, termasuk pembiayaan bunga 0 persen dan subsidi asuransi.
Namun, analis menilai langkah ini belum cukup menghadapi para pesaing yang merilis model baru hampir setiap beberapa bulan. Tanggapan Tesla adalah buku panduan merek yang sedang kehilangan pangsa pasar. "Bukan perusahaan yang memimpin inovasi,” tutup Lambert. (SF)