INCO gaet Ford dan Zhejiang bangun pabrik baterai EV US$4,5 miliar

Rabu, 18 Februari 2026

image

JAKARTA - Perusahaan tambang nikel raksasa PT Vale Indonesia Tbk (INCO) atau biasa di sebut Vale Indonesia, melaju dengan strategi bernilai miliaran dolar AS untuk masuk lebih dalam ke produksi nikel kelas baterai.

Langkah ini didorong keyakinan bahwa permintaan baterai kendaraan listrik (EV) berbasis nikel akan tetap kuat, meski baterai lithium iron phosphate (LFP) semakin populer secara global.

Wakil Presiden Direktur INCO, Abu Ashar, mengatakan baterai kaya nikel, yang unggul dalam kepadatan energi, akan tetap hidup berdampingan dengan LFP, terutama untuk kendaraan berperforma tinggi.

Seperti dikutip businesstimes.com.sg, menurutnya, daya tahan dan umur pakai yang lebih panjang membuat baterai berbasis nikel tetap diminati, termasuk oleh produsen besar seperti BYD.

Sebagai salah satu perusahaan tambang tertua di Indonesia, Vale Indonesia mengucurkan investasi sekitar US$9 miliar untuk mengembangkan tiga proyek hilirisasi utama yang menyasar bahan baku baterai EV.

Proyek andalannya adalah pabrik high-pressure acid leach (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Didirikan pada 1968, Vale Indonesia kini dikendalikan oleh holding BUMN Mind ID dengan kepemilikan 34%. Sisanya dimiliki oleh Vale Canada (33,9%) dan Sumitomo Metal Mining sekitar 11,5%.

Dorongan agresif Vale Indonesia terjadi di tengah meningkatnya adopsi baterai berbasis litium, khususnya di China, karena biaya lebih rendah dan tingkat keamanan lebih baik.

International Energy Agency memperkirakan baterai jenis ini kini menguasai hampir separuh pasar baterai EV global.

Nilai pasar baterai EV dan penyimpanan energi diproyeksikan mencapai US$160,3 miliar pada 2030, seiring adopsi oleh merek seperti BYD, Tesla, dan Ford.

Indonesia, pemilik cadangan nikel terbesar dunia, mendorong pengembangan industri hilir untuk memperkuat rantai pasok baterai dan EV. Sejak 2020, pemerintah melarang ekspor bijih nikel mentah guna memastikan pasokan domestik dan menarik investasi asing.

Selama puluhan tahun, Vale Indonesia dikenal sebagai produsen nikel matte untuk industri baja tahan karat. Operasinya mencakup lebih dari 118.000 hektare di Sulawesi, menjadikannya salah satu pemegang konsesi nikel terbesar di Indonesia.

Tambang Sorowako di Sulawesi Selatan secara historis memproduksi sekitar 70.000 ton nikel matte per tahun, seluruhnya diekspor ke Jepang melalui kontrak jangka panjang.

Strategi baterai Vale Indonesia berpusat di Pomalaa, dengan pembangunan pabrik senilai US$4,5 miliar bersama Ford dan Zhejiang Huayou Cobalt, menandai investasi langsung pertama Ford di Indonesia.

Pabrik ini akan mengolah bijih limonit berkadar rendah untuk menghasilkan bahan baku baterai EV, sementara bijih saprolit berkadar tinggi tetap digunakan untuk nikel matte.

Saat beroperasi penuh, fasilitas Pomalaa diproyeksikan memproduksi 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun, dengan operasi komersial dimulai pada kuartal IV 2026.

Proyek Bahodopi di Sulawesi Tengah juga tengah dikembangkan dengan investasi US$2 miliar untuk mengolah 10,4 juta ton limonit per tahun dan menghasilkan sekitar 66.000 ton MHP.

Menurut Ashar, proyek baterai tidak menggantikan nikel matte, melainkan melengkapinya. Dengan satu operasi tambang, perusahaan dapat menghasilkan dua produk sekaligus secara lebih efisien.

Vale Indonesia beroperasi di bawah izin usaha pertambangan khusus hingga 2035, dengan opsi perpanjangan 10 tahun. Pemerintah Indonesia berencana mengetatkan pasokan mulai 2026 guna menopang harga.

Produksi Pomalaa dan Bahodopi akan dibatasi hingga 30% sesuai kuota, sementara produksi nikel matte Sorowako tetap berjalan penuh.

Tanda-tanda pemulihan pasar mulai terlihat. Hingga November 2025, Vale Indonesia telah memproduksi 66.848 ton nikel, naik 3% secara tahunan, melampaui ekspektasi.

Harga nikel pun melonjak tajam pada Desember, didorong ekspektasi pengetatan pasokan. Kontrak berjangka nikel di London Metal Exchange tercatat US$16.784 per ton pada 6 Februari, naik lebih dari 12% dalam sebulan.

Analis Macquarie memperkirakan kebijakan produksi Indonesia akan diarahkan untuk menopang harga nikel di kisaran US$18.000 per ton, dengan proyeksi rata-rata harga LME 2026 dinaikkan menjadi US$17.750 per ton. (DK)