Amerika pertimbangkan penyesuaian tarif baja dan aluminium
Rabu, 18 Februari 2026

WASHINGTON - Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer memberi sinyal bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump terbuka untuk meninjau ulang penerapan tarif menyeluruh atas baja dan aluminium, menyusul tekanan dari kalangan pelaku usaha serta mitra dagang Amerika Serikat.“Dalam beberapa kasus, cara penerapan tarif memang perlu disesuaikan demi kepatuhan,” ujar Greer dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa.Dilansir dari bloomberg, dia menambahkan bahwa ada perusahaan yang terpaksa merekrut pegawai tambahan hanya untuk untuk memastikan setiap barang impor memenuhi aturan tarif yang berlaku, lengkap dengan bukti dan dokumen yang benar.
“Kami tidak ingin perusahaan terlalu sibuk dengan hitung-hitungan administratif sampai tidak bisa menjalankan bisnisnya dengan baik,” katanya.Pernyataan tersebut langsung menekan saham perusahaan aluminium AS pada perdagangan Selasa di New York.Saham Alcoa Corp. sempat anjlok hingga 7,9%, Kaiser Aluminum Corp. turun sampai 4,5%, dan Century Aluminum Co. melemah sekitar 4,3% hingga pukul 09.55 waktu setempat. Saham emiten baja juga ikut terkoreksi, dipimpin penurunan Cleveland-Cliffs Inc. sebesar 3,1%.Pejabat pemerintahan disebut tengah berupaya mempersempit cakupan tarif, yang tidak hanya berlaku pada logam mentahnya, tetapi juga puluhan produk turunan yang mengandung baja dan aluminium.Meski demikian, Greer menegaskan tarif dasar atas kedua logam tersebut akan tetap dipertahankan, menyebut kebijakan itu “sangat berhasil” dalam memperkuat industri domestik.“Arahnya jelas sudah benar dan tarif tersebut akan tetap berlaku,” ujarnya.Peninjauan ulang ini dilakukan di tengah tekanan politik yang dihadapi Trump, menyusul rendahnya tingkat persetujuan publik terhadap kinerja ekonomi, terutama dari warga yang khawatir dengan tingginya biaya hidup.Kondisi ini berpotensi mengancam kendali Partai Republik atas Kongres pada pemilu sela November mendatang.Tahun lalu, Trump memberlakukan tarif 50% atas baja dan aluminium impor, kebijakan yang menurut pejabat ditujukan untuk menekan kelebihan kapasitas produksi China.Namun, langkah tersebut juga berdampak besar pada mitra dagang utama lain seperti Kanada, Meksiko, Korea Selatan, dan Uni Eropa.Pemerintah kemudian memperluas tarif ke produk turunan yang mengandung baja dan aluminium.Kebijakan ini menambah beban administratif bagi perusahaan, yang harus mengidentifikasi secara rinci persentase kandungan logam dalam barang-barang yang mereka impor dari luar negeri. (DK)