Angkatan Laut Iran dan Rusia gelar latihan di Teluk Oman

Kamis, 19 Februari 2026

image

TEHERAN - Angkatan laut Iran dan Rusia dijadwalkan menggelar latihan militer gabungan pada Kamis di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara.

Seperti dikutip Xinhua, Rabu (18/2) juru bicara latihan tersebut, Hassan Maqsoudlou, dilaporkan kantor berita semi-resmi Mehr pada Rabu, mengatakan bahwa latihan ini bertujuan meningkatkan keamanan maritim, memperluas kerja sama antara angkatan laut kedua negara, serta meningkatkan koordinasi dalam operasi gabungan, lapor Mehr.

Maqsoudlou menambahkan bahwa perlindungan terhadap kapal dagang dan kapal tanker minyak, serta upaya memerangi terorisme maritim, menjadi fokus utama latihan tersebut. Menurut laporan itu, latihan ini mencerminkan meningkatnya peran negara-negara kawasan dalam menjamin keamanan maritim serta komitmen mereka untuk menentang unilateralisme.

Komandan Angkatan Laut Rusia, Alexey Sergeev, menyoroti hubungan yang bersahabat dan erat antara Moskow dan Teheran, seraya menyatakan bahwa kedua negara mampu menangani berbagai persoalan dan tantangan maritim serta pesisir melalui kerja sama, tambah laporan tersebut.

Menurut kantor berita semi-resmi Iran, Fars, latihan ini akan melibatkan kapal-kapal dari Angkatan Laut Iran dan pasukan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta korvet kelas Steregushchiy milik Angkatan Laut Rusia, Stoikiy.

Latihan ini dijadwalkan berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, seiring dengan penguatan kehadiran militer AS di kawasan.

Pada Selasa, Angkatan Laut IRGC dilaporkan menutup sementara sebagian wilayah Selat Hormuz pada hari kedua latihan mereka di jalur perairan strategis tersebut.

Sementara itu,  Presiden AS Donald Trump dilaporkan semakin mendekati keputusan untuk memulai perang melawan Iran, setelah perundingan antara kedua negara belum membuahkan hasil.

Seperti dikutip news.com.au, Kamis (19/2)  dalam laporan terbaru hari ini CBS News dan CNN sama-sama menekankan bahwa Presiden Donald Trump belum mengambil keputusan untuk menyerang Iran dan masih mempertimbangkan berbagai opsi.

“Para pejabat tinggi keamanan nasional telah memberi tahu Presiden Trump bahwa militer siap melakukan serangan potensial paling cepat pada Sabtu, namun jadwal aksi apa pun kemungkinan akan melampaui akhir pekan ini,” lapor CBS.

“Para pejabat tersebut mengatakan Trump belum membuat keputusan final apakah akan melancarkan serangan. Mereka berbicara dengan syarat anonim karena membahas isu nasional yang sensitif.

“Percakapan ini digambarkan sebagai dinamis dan terus berlangsung, seiring Gedung Putih menimbang risiko eskalasi serta konsekuensi politik dan militer dari pilihan menahan diri.”

Terdapat rencana untuk memindahkan personel Amerika Serikat keluar dari Timur Tengah sebelum akhir pekan, guna melindungi mereka dari kemungkinan serangan balasan Iran jika perang benar-benar dimulai.

Departemen Pertahanan AS belum memberikan komentar resmi terkait perkembangan ini.

Sebelumnya, Axios mengutip sumber dari pemerintah AS dan Israel, melaporkan bahwa konflik bersenjata lebih dekat daripada yang disadari kebanyakan warga Amerika. "Dan dapat dimulai dalam waktu sangat dekat, mengutip sumber dari pemerintah AS dan Israel."

Axios menyebut terdapat rencana untuk kampanye besar-besaran selama berminggu-minggu yang akan lebih menyerupai perang terbuka sepenuhnya dibandingkan operasi untuk menangkap diktator Venezuela Nicolas Maduro bulan lalu.

Jika hal itu terjadi, operasi tersebut akan menjadi kampanye bersama yang dijalankan oleh Amerika Serikat dan Israel. Pejabat Pentagon belum memberikan komentar resmi mengenai perkembangan kesiapan militer ini. (DK)