SpaceX siapkan saham dua kelas agar Elon Musk tetap pegang kendali

Kamis, 19 Februari 2026

image

JAKARTA - SpaceX dikabarkan tengah mempertimbangkan penerapan struktur saham dua kelas (dual-class shares) menjelang penawaran saham perdana (IPO) yang dinantikan tahun ini.

Seperti dikutip finance.yahoo.com, skema tersebut memungkinkan pendirinya, Elon Musk, tetap memegang kendali kuat atas perusahaan roket itu meski sudah melantai di bursa.

Struktur dua tingkat ini serupa dengan model yang sebelumnya didukung Musk di Tesla, di mana pihak tertentu memegang saham dengan hak suara lebih besar dibandingkan investor biasa.

Para pengkritik menilai skema tersebut dapat mengurangi akuntabilitas manajemen, namun Musk berpendapat hal itu penting untuk melindungi visi jangka panjang perusahaan dari tekanan investor aktivis.

Langkah ini dinilai krusial di tengah perubahan fokus SpaceX dari ambisi kolonisasi Mars menuju pengembangan industri di bulan.

Musk menyebut misi ke Mars hanya dapat dilakukan setiap 26 bulan saat orbit planet sejajar, sementara peluncuran ke bulan bisa dilakukan setiap 10 hari, sehingga memungkinkan pengembangan proyek lebih cepat.

Ia juga menyampaikan rencana membangun pabrik di bulan untuk memproduksi satelit AI yang kemudian diluncurkan menggunakan ketapel elektromagnetik raksasa yang disebut “mass driver”. Di pasar prediksi Polymarket, peluang IPO SpaceX pada 2026 disebut mencapai 93%.

IPO tersebut diperkirakan dapat menilai SpaceX hingga US$1,5 triliun dan menghimpun dana lebih dari US$30 miliar, berpotensi menjadi debut pasar saham terbesar dalam sejarah, melampaui IPO Saudi Aramco senilai US$29 miliar pada 2019.

Waktu pelaksanaan disebut-sebut bisa terjadi pada pertengahan Juni 2026.

Struktur saham dua kelas lazim digunakan oleh perusahaan teknologi besar AS, di mana saham dengan hak suara istimewa bisa memiliki 10 hingga 20 suara per lembar, sementara saham biasa hanya memiliki satu suara.

Dengan model ini, pemegang saham publik umumnya memiliki hak suara terbatas meskipun menguasai mayoritas kepemilikan ekonomi.

Bagi Musk, kepemilikan saham supervoting akan menjadi benteng terhadap tekanan investor aktivis. Ia pernah mengusulkan skema serupa di Tesla pada 2024 dengan target kendali hak suara minimal 25%.

Pendekatan ini dinilai penting mengingat Musk memimpin beberapa perusahaan sekaligus dan tengah menjalankan proyek ambisius di bidang antariksa serta kecerdasan buatan yang membutuhkan modal besar dan kesabaran jangka panjang.

Namun, apakah investor akan menerima struktur tersebut masih menjadi tanda tanya. (DK)