Donald Trump di forum Board of Peace ultimatum Iran 10–15 Hari
Jumat, 20 Februari 2026

WASHINGTON – Presiden Donald Trump memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Jika tidak, ia menegaskan, “hal-hal yang benar-benar buruk” akan terjadi.
Trump bahkan menetapkan tenggat waktu tidak lebih dari 10–15 hari sebelum Amerika Serikat kemungkinan mengambil tindakan. Di tengah pengerahan besar-besaran militer AS di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran akan perang lebih luas, Trump mengatakan perundingan dengan Iran berjalan baik.
Namun, ia menekankan bahwa Teheran harus mencapai kesepakatan yang bermakna, bukan sekadar simbolis.
“Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi,” ujar Trump dalam pertemuan "Inaugural Meeting of Board of Peace" (Dewan Perdamaian) di Washington, seperti dikutip Reuters, Kamis (19/2).
Ia kembali mengulang ancamannya untuk menyerang Iran, sebagaimana telah disampaikan berulang kali dalam beberapa bulan terakhir.
Trump juga menyinggung serangan udara AS pada Juni lalu yang, menurutnya, telah “melumpuhkan” potensi nuklir Iran. Meski demikian, ia membuka kemungkinan eskalasi lanjutan.“Kami mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak,” katanya.
“Kalian akan mengetahuinya dalam sekitar 10 hari ke depan,” tambah Trump.
Ketika diminta memperjelas pernyataannya oleh wartawan di atas Air Force One, ia menegaskan, “Saya kira itu sudah cukup waktu, 10, 15 hari, kira-kira batas maksimum.”
Meski demikian, Trump menolak memberikan rincian lebih jauh, selain kembali memperingatkan akan konsekuensi serius dan menegaskan bahwa Iran harus membuat kesepakatan dengan satu cara atau cara lainnya.
Ancaman terbaru Trump terjadi ketika perundingan nuklir antara kedua negara masih menemui jalan buntu. Ketegangan ini turut mendorong kenaikan harga minyak global. Pada saat yang sama, sebuah kapal perang korvet Rusia terlihat bergabung dalam latihan angkatan laut Iran di Teluk Oman—jalur laut vital bagi lalu lintas tanker minyak dunia.
Para perunding Iran dan AS diketahui bertemu pada Selasa. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kedua pihak telah menyepakati “prinsip-prinsip panduan”. Namun, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan perbedaan signifikan masih tersisa dalam sejumlah isu utama.
Trump menyerukan agar Teheran bergabung dengan AS di jalur menuju perdamaian.“Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, sesederhana itu,” katanya. “Tidak akan ada perdamaian di Timur Tengah jika mereka memiliki senjata nuklir.”
Iran menolak membuat konsesi besar atas program nuklirnya, meski terus menegaskan bahwa program tersebut bertujuan damai. Di sisi lain, AS dan Israel selama bertahun-tahun menuduh Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir.
Adu gertak ini muncul ketika Trump memosisikan dirinya sebagai tokoh perdamaian global dalam pidato panjang saat peluncuran Dewan Perdamaian. Badan tersebut pertama kali ia usulkan pada September lalu, bersamaan dengan pengumuman rencananya untuk mengakhiri perang Israel–Hamas di Gaza. Mandat dewan itu kemudian diperluas untuk menangani konflik global, sebuah langkah yang membuat sejumlah sekutu Barat memilih tidak hadir.
Sebelumnya pada hari yang sama, Rusia memperingatkan adanya potensi eskalasi ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terkait Iran dan mendesak semua pihak menahan diri. Peringatan itu disampaikan di tengah pengerahan militer AS di kawasan tersebut, yang menurut pejabat senior Amerika ditargetkan rampung pada pertengahan Maret.
Washington dan sekutunya, Israel, juga menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium, menghentikan pengembangan rudal balistik jarak jauh, menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok di Timur Tengah, serta mengakhiri penggunaan kekuatan untuk menekan protes internal. Iran menolak membahas isu di luar berkas nuklir dan menyebut pembatasan arsenal rudal sebagai garis merah.
Citra satelit menunjukkan Iran terus memperbaiki dan memperkuat fasilitas nuklir serta rudalnya sejak musim panas lalu. Pada saat yang sama, persiapan militer AS di berbagai pangkalan Timur Tengah juga terpantau meningkat dalam sebulan terakhir.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran menggelar latihan angkatan laut gabungan dengan Rusia di Teluk Oman. Televisi pemerintah Iran menayangkan pengerahan pasukan khusus menggunakan helikopter dan kapal perang.
Sebagai tanda meningkatnya kekhawatiran internasional, Polandia menjadi negara Eropa terbaru yang mendesak warganya meninggalkan Iran. Perdana Menteri Donald Tusk mengatakan warga Polandia mungkin hanya memiliki waktu beberapa jam untuk dievakuasi.
>> Bermain Api
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan pada Rabu (18/2), mengatakan bahwa setiap serangan baru Amerika Serikat terhadap Iran akan menimbulkan konsekuensi serius.
Wawancara Lavrov dengan stasiun televisi Al-Arabiya milik Arab Saudi itu ditayangkan sehari setelah para perunding AS dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Jenewa untuk mencegah krisis baru yang kian meningkat antara Washington dan Teheran.
“Konsekuensinya tidak baik. Sudah ada serangan terhadap Iran di lokasi-lokasi nuklir yang berada di bawah pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional. Dari penilaian kami, terdapat risiko nyata terjadinya insiden nuklir,” kata Lavrov dalam wawancara tersebut, yang diunggah di situs kementeriannya.
“Saya dengan cermat mengamati reaksi di kawasan dari negara-negara Arab, monarki Teluk. Tidak ada yang menginginkan peningkatan ketegangan. Semua orang memahami bahwa ini seperti bermain api.”
Peningkatan ketegangan, katanya, dapat menggagalkan langkah-langkah positif dalam beberapa tahun terakhir, termasuk membaiknya hubungan antara Iran dan negara-negara tetangganya, khususnya Arab Saudi.
Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada Reuters pada Rabu bahwa Iran diperkirakan akan menyerahkan proposal tertulis mengenai cara menyelesaikan kebuntuannya dengan Amerika Serikat setelah pembicaraan di Jenewa.
Para penasihat keamanan nasional AS bertemu di Gedung Putih pada Rabu dan diberi tahu bahwa seluruh kekuatan militer AS yang dikerahkan ke kawasan tersebut seharusnya sudah berada di posisi masing-masing paling lambat pertengahan Maret, kata pejabat tersebut.
Amerika menginginkan Iran menghentikan program nuklirnya, dan Iran dengan tegas menolak serta membantah bahwa pihaknya berupaya mengembangkan senjata nuklir.
Lavrov mengatakan negara-negara Arab mengirimkan sinyal kepada Washington yang secara jelas menyerukan penahanan diri dan pencarian kesepakatan yang tidak melanggar hak-hak sah Iran. "Dan mereka menjamin bahwa Iran memiliki program pengayaan nuklir yang murni damai.”
Rusia, katanya, tetap menjalin kontak dekat dan rutin dengan para pemimpin Iran. “Dan kami tidak memiliki alasan untuk meragukan bahwa Iran dengan tulus ingin menyelesaikan masalah ini berdasarkan kepatuhan terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.”
Sementara itu, Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Laksamana Muda Alireza Tangsiri, menegaskan bahwa Selat Hormuz kini berada di bawah pengawasan intelijen penuh selama 24 jam.
Langkah ini diambil di tengah latihan militer intensif untuk mengamankan jalur transit minyak paling vital di dunia yang menghubungkan Teluk Persia ke Samudra Hindia.
Dikutip dari en.irna.ir (17/2/2026), Tangsiri menyebut manuver yang sedang berlangsung bertajuk "Kekuatan Pertahanan dan Operasi Ofensif dari Kepulauan Teluk Persia".
Ia melabeli wilayah tersebut sebagai "benteng tak terkalahkan" dan "kehormatan nasional" bagi rakyat Iran. Latihan ini tidak sekadar rutinitas tahunan, melainkan melibatkan taktik dan peralatan tempur baru yang dirancang khusus untuk merespons segala bentuk plot ketidakamanan maritim dengan cepat dan tegas.
Secara teknis, pengawasan yang dilakukan IRGC bersifat total dan berlapis. Tangsiri merinci bahwa pemantauan intelijen tidak hanya terbatas pada pergerakan di permukaan laut, tetapi juga mencakup sektor udara dan bawah permukaan (subsurface).
>> Harga Minyak Melonjak
Seiring kekhawatiran pasar atas meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, harga minyak dunia melonjak sekitar 2% pada Kamis (19/2/2026) dan ditutup di level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Kontrak minyak mentah Brent, seperti dikutip dari Reuters, ditutup naik US$1,31 atau 1,9% ke level US$71,66 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,24 atau 1,9% ke US$66,43 per barel.
Brent mencatatkan penutupan tertinggi sejak 31 Juli, setelah melonjak lebih dari 4% pada Rabu lalu. Sedangkan WTI menjadi yang tertinggi sejak 1 Agustus.
Harga minyak terdorong oleh kekhawatiran bahwa AS dapat segera melancarkan serangan terhadap Iran.
“Pasar akan terus reli karena mengantisipasi kemungkinan terjadinya sesuatu,” ujar Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates. (SF)