Permintaan lelang SUN melemah, yield naik dekati 7%

Jumat, 20 Februari 2026

image

JAKARTA - Lelang  Surat Utang Negara (SUN) pemerintah Indonesia pekan ini mencatat permintaan yang relatif lemah di tengah gejolak pasar, meski kondisi tersebut dinilai belum mengkhawatirkan.

Pemerintah berhasil menghimpun Rp40 triliun (sekitar US$2,4 miliar) dari lelang SUN reguler pada Rabu, lebih tinggi dari target awal. Ini merupakan penerbitan obligasi pertama sejak revisi outlook oleh Moody’s.

Seperti dikutip theedgemalaysia.com, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik tipis ke 6,457%, setelah meningkat sekitar 30 basis poin sejak awal tahun. Selisih imbal hasil dengan obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat 233 basis poin.

 Total penawaran yang masuk tercatat Rp63,06 triliun, terendah dalam hampir satu tahun terakhir, namun pejabat dan analis menyebut faktor musiman akibat libur Imlek sebagai penyebab utama lemahnya permintaan. Investor asing menyumbang sekitar 15% dari total pemenang lelang.

Jenis SUN              Yield               Rasio bid to cover

SPN01260322        4,50000%        1,00

SPN03260521        -                      -

SPN12270204       4,76800%         1,91

FR0109                 5,67712%          1,47

FR0108                 6,37998%          1,71 FR0106                 6,59975%          1,34 FR0107                 6,66957%          2,06 FR0102                 6,74988%          1,39

FR0105                 6,77991%          1,32

Obligasi diterbitkan dalam delapan tenor, dengan rasio bid-to-cover untuk seri acuan 10 tahun berada di level 1,7, terendah sejak Sri Mulyani Indrawati diberhentikan dari jabatan Menteri Keuangan pada awal September.

[[Rasio bid to cover adalah total permintaan (bid) investor dibagi dengan jumlah obligasi yang ditawarkan (cover / supply). Cara membacamua  jika rasio lebih besar 2.0 maka permintaan sangat kuat, permintaan sehat / normal (=2.0), permintaan melemah (< 2,0), hanya laku pas-pasan (≈ 1,0),  dan gagal serap (sangat jarang untuk SUN  (< 1,0). ]] 

Dengan angka rasio bid to cover 1,7 arinya adalah untuk setiap Rp1 obligasi 10 tahun yang ditawarkan pemerintah, hanya ada Rp1,7 permintaan dari investor.

Hal Ini menunjukkan minat investor relatif rendah dibanding kondisi normal. Pelaku pasar menilai, minimnya partisipasi investor sebagian dipengaruhi oleh libur Tahun Baru Imlek.

Hasil lelang ini muncul setelah kepercayaan investor terhadap ekonomi terbesar di Asia Tenggara tersebut terguncang oleh sejumlah perkembangan negatif. Pasar obligasi dan nilai tukar rupiah pun menjadi sorotan.

Beberapa sentimen negatif tersebut antara lain peringatan dari MSCI bulan lalu terkait potensi penurunan status pasar saham Indonesia menjadi “frontier market” akibat isu transparansi, serta revisi outlook peringkat kredit oleh Moody’s dua pekan lalu yang menyoroti berkurangnya kepastian kebijakan.

Kekhawatiran juga meningkat terkait independensi bank sentral setelah Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo Subianto, ditunjuk sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Rupiah sempat menyentuh rekor terendah di level Rp16.985 per dolar AS pada Januari.

Pada Kamis, rupiah kembali melemah 0,3% ke Rp16.933 per dolar AS seiring penguatan dolar AS menjelang pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia.

Bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan untuk kelima kalinya secara berturut-turut.

Analis menilai minat asing terhadap obligasi rupiah relatif stabil meski terjadi sedikit penurunan kepemilikan dalam sepekan terakhir.

Namun ke depan, investor masih akan mencermati arah kebijakan pemerintah.

Pelaku pasar menilai kejelasan kebijakan serta komitmen yang kuat terhadap disiplin fiskal menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor dalam jangka pendek.

Seperti diketahui. penawaran obligasi pemerintah merupakan bagian dari pembiayaan anggaran dan juga menalangi defisit APBN tahun ini yang ditargetkan mencapai Rp689,1 triliun.

Berdasarkan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara tahun anggaran 2026 atau UU APBN nomor 17 tahun 2025, pembiayaan utang tahun ini ditargetkan Rp832,2 triliun. Angkanya naik dibanding target tahun lalu yang sebesar Rp775,9 triliun.

Dalam konteks pasar keuangan, hasil lelang ini juga menjadi sorotan investor. Seperti diketahui pasar keuangan Indonesia tertekan setelah Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Sentimen tersebut memicu aksi jual di obligasi, saham, dan rupiah pada perdagangan Jumat (6/2).

Data Bloomberg menunjukkan imbal hasil (yield)  lelang SUN pada 6 Februari 2026  naik hampir di seluruh tenor. Yield SUN dengan tenor 1 tahun meningkat 3,7 basis poin mendekati 5%, tenor 2 tahun jadi 5,08%, dan tenor 3 tahun jadi 5,4%. Kenaikan terbesar terjadi pada tenor 4 dan 5 tahun yang melonjak masing-masing 8,7 bps dan 11 bps ke kisaran 5,8% atau mendekati 6%.

Seorang pengamat ekonomi menjelaskan bahwa menyusul penurunan outlook Indonesia oleh Moodys dari stabil menjadi negatif, maka perhatian pasar tertuju pada hasil lelang beberapa seri Surat Berharga Negara (SBN). Lelang SBN berfungsi sebagai real-time market test terhadap minat investor dan tingkat yield yang diminta pasar.

Permintaan yang solid berpotensi meredakan kekhawatiran, sementara hasil lelang yang lemah dapat memperkuat persepsi bahwa premi risiko Indonesia sedang meningkat.

Ke depan, pergerakan nilai tukar rupiah, hasil lelang SBN, serta komunikasi kebijakan fiskal akan menjadi indikator utama. Jika ketiganya menunjukkan stabilitas dan kredibilitas, tekanan pada Credit Default Swap (CDS) dan yield obligasi berpeluang mereda. Sebaliknya, ketidakpastian yang berlarut kemungkinan membuat pasar tetap berhati-hati. (DK/MT)

Terkait: 

1. Biayai defisit APBN Rp689,1 triliun, negara lelang SUN Rp33 triliun

2. CDS Indonesia merayap naik tertinggi di Asia, pasar beri pesan apa?

3. Moody’s turunkan outlook Indonesia, yield SUN naik dekati 6%