Peter Schiff: Krisis berikutnya berpusat pada dolar AS

Jumat, 20 Februari 2026

image

JAKARTA – Investor veteran Peter Schiff, yang dikenal kerap memperingatkan risiko struktural ekonomi Amerika Serikat, memberikan penilaian paling tegasnya terhadap dolar AS hanya dengan satu kata: “bad” (buruk).

Dalam wawancara dengan Founder & CEO Sujal Jethwani dari GrowRex, Schiff menegaskan keyakinannya bahwa krisis besar berikutnya tidak akan berpusat pada sektor perumahan seperti pada 2008, melainkan pada dolar AS itu sendiri.

Seperti dikutip TheStreet, Schiff kembali mengulas peringatannya menjelang krisis keuangan global 2008. Meski mengakui tidak memprediksi setiap detail secara akurat, ia menilai dirinya tepat dalam mengidentifikasi peran suku bunga rendah, hipotek yang didukung pemerintah, serta spekulasi berlebihan sebagai pemicu kejatuhan pasar perumahan.

Schiff menilai respons pemerintah AS kala itu—termasuk pemangkasan suku bunga agresif dan kebijakan pelonggaran kuantitatif—tidak menyelesaikan akar persoalan, melainkan hanya menunda krisis yang lebih dalam.

Meski sejumlah prediksi sebelumnya terkait hiperinflasi dan kejatuhan dolar belum sepenuhnya terwujud, Schiff tetap pada keyakinannya. Ia menunjuk emas sebagai indikator peringatan dini, dengan menyebut kenaikan harga logam mulia sebagai sinyal bahwa pasar tengah mengantisipasi ketidakstabilan mata uang fiat.

“Saya pikir kenaikan emas seperti ini menunjukkan krisis semakin dekat,” ujar Schiff, seraya mengaku terkejut dengan lamanya proses menuju krisis tersebut.

Pokok pemikiran Schiff adalah bahwa Amerika Serikat tidak dapat terus menanggung peningkatan utang dan ekspansi moneter tanpa konsekuensi. Menurutnya, kombinasi utang pemerintah yang membengkak dan pencetakan uang secara berkelanjutan pada akhirnya akan menggerus kepercayaan global terhadap dolar AS.

Dalam sesi tanya jawab cepat, Schiff juga diminta merangkum sejumlah aset dan tren ekonomi hanya dengan satu kata—sekaligus mempertegas pandangannya mengenai risiko sistemik yang terus membayangi perekonomian AS. (DK)