PIER proyeksikan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,2% di 2026
Sabtu, 21 Februari 2026

JAKARTA – Permata Institute for Economic Research (PIER) mengungkapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,1–5,2% pada 2026, jauh dari target pemerintah yang dicanangkan, yaitu 5,6%.
“Potensi peningkatan menuju 5,2–5,3% terbuka apabila tekanan eksternal mereda dan reformasi struktural semakin memperkuat keyakinan pelaku usaha serta konsumen,” tambah pihak PIER dalam siaran resmi yang diterima IDNFinancials.com, Jumat (20/2).
PIER memperkirakan bahwa konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi masih akan menjadi penggerak ekonomi yang utama, terutama dengan program unggulan Presiden Prabowo, Makan Bergizi Gratis (MBG), yang akan memicu geliat lebih kuat di sektor agrikultur dan pangan.
Selain itu, PIER juga menyoroti potensi pertumbuhan pada sektor informasi dan komunikasi seiring peningkatan investasi data centre di Indonesia.
Berdasarkan data IDNFinancials.com, dalam tiga bulan terakhir saja, terdapat setidaknya tiga emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyampaikan rencana ekspansi ke sektor data centre.
Misalnya, manajemen PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) merencanakan tahap awal ekspansi Perseroan dengan pengembangan data center yang dimulai pada kuartal pertama tahun 2026.
Selain itu, baik PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dan PT Intiland Development Tbk (DILD), masing-masing telah membentuk anak usaha maupun usaha patungan sebagai kendaraan masuk ke sektor data centre.
“Selain itu, permintaan area industri juga berpotensi meningkat seiring pergeseran tren [ke data centre] ini,” ujar Adjie Harisandi, Head of Industry & Regional Research Permata Bank, dalam paparannya, Jumat (20/2).
Untuk 2026, PIER masih melihat kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga, “seiring inflasi inti yang relatif terjaga dan prospek penurunan suku bunga global yang lebih gradual.”
PIER sendiri mempoyeksikan inflasi inti berada di level 2,5–3% pada 2026, cenderung naik dari 2,38% per Desember 2025, namun melandai dari 3,55% per Januari 2026.
Namun, Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, kembali menegaskan bahwa sinergi kebijakan fiskal dan moneter mejadi krusial untuk menjaga stabilitas rupiah, serta potensi dan risiko pendanaan melalui pasar keuangan yang lebih sehat.
Seperti yang diketahui, rupiah masih terus tertahan di atas Rp16.000 sejak November 2025, bahkan nyaris menyentuh Rp17.000 pada Januari lalu.
“Kebijakan domestik harus dikelola secara hati-hati agar dukungan terhadap pertumbuhan tetap sejalan dengan stabilitas makroekonomi, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar dan biaya pendanaan di pasar keuangan,” ujarnya. (ZH)