Batal akuisisi Glencore, bisnis tembaga Rio Tinto untung US$7,4 miliar
Sabtu, 21 Februari 2026

JAKARTA - Rio Tinto mengandalkan laba dari bisnis tembaga yang meningkat hampir dua kali lipat menjadi sekitar US$7,4 miliar pada 2025, untuk menopang strategi pertumbuhan setelah membatalkan rencana akuisisi Glencore.
Kinerja bisnis tembaga Rio Tinto melesat setelah ekspansi tambang Oyu Tolgoi di Mongolia, serta didukung harga jual yang lebih tinggi.
CEO, Rio Tinto, Simon Trott, menegaskan tembaga menjadi fokus utama pertumbuhan, dengan 85% anggaran eksplorasi diarahkan ke komoditas tersebut.
“Kami bertumbuh dan kami bertumbuh sekarang,” kata Trott, dikutip mining.com.
EBITDA yang disesuaikan naik 9% menjadi US$25,4 miliar, didorong kenaikan produksi tembaga 11% dan membuat volume produksi bijih besi mencapai rekor baru.
Laba bisnis aluminium dan litium pun melonjak 29%, membuat laba dasarnya mencapai US$10,87 miliar, sesuai ekspektasi pasar.
Namun laba bersih Rio Tinto turun 14% menjadi US$10 miliar akibat kenaikan depresiasi, pajak, dan biaya pendanaan.
Bijih besi tetap menjadi kontributor laba terbesar Rio Tinto, tetapi laba segmen ini turun 11% karena harga jual yang lebih rendah dan penjualan yang cenderung datar.
Rio melanjutkan investasi untuk menjaga output produksi di Australia Barat, dengan sebagian besar tambang pengganti kini berada di tahap peningkatan produksi atau konstruksi.
Rio juga memulai ekspor dari proyek Simandou di Guinea dan menargetkan penjualan 5–10 juta ton pada 2026. Saham perseroan naik 2% di Sydney dan turun 3,5% di London setelah pengumuman kinerja, meski secara tahunan masih naik 42%. (DH/KR)