CEO DeepMind: AI tumpulkan otak jika dipakai dengan cara malas

Minggu, 22 Februari 2026

image

JAKARTA – Pemimpin Google DeepMind, Demis Hassabis, melontarkan peringatan tegas terkait dampak kecerdasan buatan (artificial intelligence) terhadap kognisi manusia.

Ia menegaskan bahwa teknologi mutakhir ini bagaikan pisau bermata dua: berpotensi mencetak manusia menjadi genius, namun di sisi lain dapat menumpulkan kemampuan berpikir kritis secara drastis jika digunakan dengan cara yang malas.

Dikutip dari Business Insider (20/2/26), pandangan tersebut disampaikan Hassabis dalam sebuah wawancara dengan pengusaha Varun Mayya di sela-sela perhelatan India AI Impact Summit pada hari Kamis. Hassabis secara spesifik mengibaratkan AI seperti internet pada awal masa perkembangannya.

AI, kata dia,  itu seperti internet. "Anda bisa menggunakannya untuk mempelajari segala macam topik, atau menggunakannya dengan cara yang justru 'mendegradasi' (menurunkan kualitas) pemikiran Anda."

Hassabis menambahkan: "Jika Anda menggunakan AI dengan cara yang malas, itu akan membuat kemampuan berpikir kritis Anda memburuk."

​Namun, hal tersebut semua kembali kepada menusia sebagai individu. "Tidak ada orang lain yang bisa membantu Anda dalam hal itu (menjaga ketajaman berpikir)."

Menurut Hassabis, ancaman terbesarnya bukanlah AI melampaui kecerdasan manusia, melainkan AI membuat individu menjadi terlalu nyaman dan bergantung, yang berpotensi menyebabkan penurunan dalam berpikir kritis dan tindakan mandiri

Ia menjelaskan bahwa masyarakat memiliki kebebasan absolut untuk memanfaatkannya sebagai medium pembelajaran segala topik, atau justru terjerumus menggunakannya dengan cara yang mendegradasi daya nalar. Menurutnya, tanggung jawab menjaga ketajaman otak sepenuhnya berada di tangan masing-masing individu penggunanya.

Peringatan ini memikul bobot yang signifikan mengingat rekam jejak monumental Hassabis di dunia kecerdasan buatan.

Ia mendirikan DeepMind pada tahun 2010 sebelum diakuisisi oleh Google pada 2014, dan akhirnya digabung dengan Google Brain pada 2023 untuk membentuk Google DeepMind.

Laboratorium raksasa inilah yang membidani lahirnya alat-alat canggih yang kini merajai pasar seperti Gemini dan Nano Banana. Bahkan, dedikasi risetnya telah mengantarkan Hassabis dan rekannya, John Jumper, meraih Hadiah Nobel Kimia 2024 berkat karya mereka dalam memprediksi struktur protein.

Meski memimpin revolusi tersebut, ia tetap mendesak masyarakat untuk menggunakan inovasi teknologinya guna meningkatkan, bukan meredupkan, kecerdasan.

Kekhawatiran senada mengenai bahaya ketergantungan kognitif pada AI kini semakin vokal disuarakan oleh para raksasa teknologi lainnya seiring masifnya adopsi sistem ini.

Pada hari Selasa, miliarder Mark Cuban melalui platform X mengklasifikasikan pengguna model bahasa besar (large language models) ke dalam dua kutub ekstrem: mereka yang memanfaatkannya untuk mempelajari segalanya, dan mereka yang memakainya sekadar agar tidak perlu repot belajar apa pun.

Cuban sebelumnya bahkan sempat mengkritik bahwa model AI secara fundamental sebenarnya "bodoh" layaknya seorang savant (seseorang dengan kemampuan luar biasa spesifik namun terbatas di area lain) yang mampu mengingat segalanya tetapi tidak bisa memberikan seluruh jawaban yang komprehensif.

Pandangan pesimistis terhadap kemalasan manusia juga ditekankan oleh Arthur Mensch, CEO laboratorium AI asal Prancis, Mistral.

Dalam sebuah konferensi bulan Juni lalu, Mensch menepis narasi fiksi ilmiah arus utama dengan menyatakan bahwa risiko eksistensial terbesar dari AI bukanlah ancaman mesin yang menjadi tak terkendali atau lebih pintar dari penciptanya.

Ancaman paling nyata dan mendesak, menurut pandangannya, adalah kenyamanan semu yang ditawarkan AI; sebuah ilusi yang perlahan akan membuat umat manusia menjadi terlalu bergantung dan pada akhirnya kehilangan dorongan alamiah untuk berpikir maupun bertindak secara mandiri. (SF)