Iran memanas, AS kerahkan 50% kekuatan udara global ke Timur Tengah

Minggu, 22 Februari 2026

image

JAKARTA – Robert A. Pape, Profesor Ilmu Politik di University of Chicago, menilai Amerika Serikat belum pernah mengerahkan kekuatan militer sebesar ini di Timur Tengah terhadap calon musuh tanpa benar-benar melancarkan serangan.

Menurut Pape, yang juga merupakan pendiri Chicago Project on Security & Threats (CPOST) serta spesialis urusan keamanan, kekuatan militer Amerika Serikat yang kini terkonsentrasi di sekitar Iran merepresentasikan sekitar 40–50% dari total kekuatan udara AS yang dapat dikerahkan secara global.

“Bayangkan kekuatan udara setara dengan yang digunakan dalam Perang Irak tahun 1991 dan 2003—dan jumlahnya masih terus bertambah,” tulis Pape melalui akun X, Jumat (21/2).

Belum pernah sebelumnya, lanjut dia, Amerika Serikat mengerahkan kekuatan sebesar ini terhadap calon musuh tanpa diikuti peluncuran serangan militer.

Lalu, mengapa situasi yang tidak lazim ini bisa terjadi?

Menurut Pape, sejak awal Amerika Serikat tidak memiliki kemampuan intelijen yang memadai untuk memantau secara pasti kondisi pascaserangan di fasilitas nuklir Fordo pada Juni tahun lalu. Akibatnya, Washington tidak mampu memastikan apa yang sebenarnya terjadi terhadap stok uranium Iran yang telah diperkaya hingga 60%.

“Waktu delapan bulan, hingga Februari 2026, merupakan waktu yang cukup bagi Iran untuk melanjutkan dan mempercepat programnya secara diam-diam, tanpa dapat dipantau secara efektif oleh Amerika Serikat.”

Seperti diketahui, serangan udara singkat Amerika Serikat pada Juni tahun lalu dilakukan dengan konsep hit-and-run, ketika jet pengebom siluman B-21, setelah menjatuhkan bom ke fasilitas nuklir Fordo, langsung kembali ke wilayah Amerika Serikat. Serangan tersebut, kemudian dibocorkan bahwa ternyata tidak menghasilkan dampak signifikan.

Tak lama setelah itu, Presiden Donald Trump meluapkan kemarahannya melalui akun Truth Social, menyusul bocornya laporan Badan Intelijen Pertahanan AS yang pertama kali diungkap CNN.

Laporan awal Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat (Defence Intelligence Agency/DIA) tersebut menyimpulkan bahwa serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran hanya menunda program pengayaan nuklir Teheran selama beberapa bulan.

“CNN BERITA PALSU, BERSAMA DENGAN NEW YORK TIMES YANG GAGAL, TELAH BEKERJA SAMA DALAM USAHA UNTUK MERENDAHKAN SALAH SATU SERANGAN MILITER PALING SUKSES DALAM SEJARAH,” tulis Trump di Truth Social, dari Belanda saat menghadiri KTT NATO, Rabu (25/6/2025).

>> Eskalasi Militer Terbaru

Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat kembali meningkatkan pengerahan kekuatan militernya ke Timur Tengah, menyusul ultimatum Trump kepada Iran terkait program nuklir dan stok rudal balistiknya.

Trump menyatakan Teheran hanya memiliki waktu sekitar 10–15 hari untuk menyetujui kesepakatan baru sebelum menghadapi potensi tindakan militer dari Washington.

Dikutip dari BBC (21/2/2026), tim investigasi BBC Verify melacak pergerakan kapal induk bertenaga nuklir USS Gerald R. Ford yang melintasi Selat Gibraltar menuju Laut Mediterania dan bergerak ke arah timur, dengan pengawalan kapal perusak USS Mahan sebagai bagian dari carrier strike group.

Selain pengerahan armada laut, aktivitas militer Amerika Serikat di sektor udara juga meningkat tajam. Data dari situs pelacakan penerbangan Flightradar24 mencatat hampir 50 pesawat logistik dan pengintai militer terbang melintasi Eropa menuju Timur Tengah dalam kurun 24 jam.

Armada tersebut terdiri dari 31 pesawat angkut berat C-17 Globemaster III, tujuh C-5 Galaxy, serta sembilan pesawat pengisi bahan bakar KC-135 Stratotanker. Enam jet tempur siluman F-22 Raptor juga dilaporkan telah bersiaga di pangkalan RAF Lakenheath, Inggris.

Analis penerbangan dari firma intelijen Janes, Sam Wise, menyebut jumlah penerbangan militer tersebut “jelas jauh di atas aktivitas normal”, dan menilai keterbukaan visibilitas di situs pelacakan publik kemungkinan merupakan keputusan operasional untuk menunjukkan skala pengerahan kekuatan.

Sementara itu, laporan Al Jazeera (20/2/2026) menyebut intelijen sumber terbuka mencatat Amerika Serikat telah mengerahkan lebih dari 120 pesawat militer ke Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir, termasuk jet tempur siluman F-35 Lightning II, F-22 Raptor, serta pesawat peringatan dini E-3 Sentry (AWACS).

Selain itu, kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan berada di Laut Arab dan diperkirakan akan beroperasi bersama USS Gerald R. Ford, memperkuat kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Pengerahan ini disebut sebagai lonjakan kekuatan udara terbesar AS di Timur Tengah sejak Perang Irak 2003.

>> Respons Diplomatik dan Iran

Eskalasi militer ini turut memicu dinamika diplomatik antara Amerika Serikat dan Inggris, khususnya terkait penggunaan pangkalan militer Diego Garcia di Samudra Hindia.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dilaporkan mengindikasikan penolakan penggunaan pangkalan tersebut untuk operasi ofensif terhadap Iran karena dinilai berpotensi melanggar hukum internasional. Menanggapi sikap tersebut, Trump mengecam pemerintah Inggris melalui Truth Social dan menarik dukungan AS atas rencana transfer kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius.

Di sisi lain, Iran merespons tekanan tersebut dengan mengirimkan surat kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, menegaskan tidak mencari konflik namun memperingatkan bahwa setiap agresi dari Amerika Serikat akan dibalas secara “tegas dan proporsional.”

Iran juga dilaporkan menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia di Laut Oman dan Samudra Hindia utara, sembari memperkuat sejumlah fasilitas militernya yang dinilai strategis.

>> Hormuz Risk Premium

Pengerahan aset tempur Amerika Serikat dalam skala besar tersebut mulai berdampak langsung ke pasar energi global. Ketegangan geopolitik di sekitar Iran dan kawasan Selat Hormuz mendorong harga minyak bergerak naik, seiring pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik (geopolitical risk premium) ke dalam perhitungan harga.

Analis Komoditas Ole Hansen dari Saxo Bank menilai lonjakan risiko konflik telah memicu kenaikan harga minyak lebih dari 4% pada pertengahan pekan, 18–19 Februari. Menurutnya, pengerahan militer AS dalam skala tidak lazim menciptakan kekhawatiran serius terhadap potensi gangguan pasokan, khususnya di jalur vital Selat Hormuz.

Sementara itu, Phil Flynn, Analis Senior di Price Futures Group, dalam laporannya The Energy Report (20/02/2026), menyebut pasar energi saat ini berada dalam kondisi siaga penuh, namun masih tertahan oleh ketidakpastian arah kebijakan Washington.

Menurut Flynn, pelaku pasar masih menimbang apakah ancaman Presiden Donald Trump akan berujung pada aksi militer nyata, atau sebatas strategi penggetaran (deterrence) untuk menekan Iran secara politik dan diplomatik.

Nada serupa disampaikan Warren Patterson, Head of Commodities Strategy di ING Group. Ia menilai ketidakpastian selama masa tenggat ultimatum, sekitar dua minggu ke depan, akan menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi.

“Ketidakpastian dalam dua minggu ke depan akan membuat pasar terus menghitung premi risiko yang besar, sehingga menopang harga minyak di level tinggi,” ujarnya.

Lalu, bagaimana proyeksi harga minyak ke depan?

Laporan terbaru dari BloombergNEF memperingatkan potensi skenario terburuk. Jika konflik meningkat hingga menyebabkan ekspor minyak Iran terhenti sepenuhnya, harga minyak Brent diperkirakan dapat melonjak hingga rata-rata US$91 per barel pada kuartal IV 2026.

Skenario tersebut menegaskan bahwa eskalasi militer di sekitar Iran tidak hanya menjadi isu keamanan internasional, tetapi juga berpotensi memicu guncangan besar pada stabilitas pasar energi global. (SF/MT)