Krisis Blue Owl: Eksposur software 70% picu eksodus investor
Senin, 23 Februari 2026

JAKARTA – Blue Owl Capital Inc., perusahaan manajemen aset global dengan portofolio senilai US$307,4 miliar, kini berada di tengah badai sentimen negatif Wall Street.
Perusahaan ini dikenal sebagai pengelola dana kredit swasta (private credit) dan pinjaman alternatif, dengan fokus investasi besar pada sektor perangkat lunak (software) dan teknologi.
Seperti dikutip dari cnbctv18.com (20/02/2026), krisis yang menimpa Blue Owl muncul akibat tekanan likuiditas, di mana sekitar 70% portofolionya terkonsentrasi pada sektor perangkat lunak.
Kekhawatiran pasar muncul karena pinjaman jangka menengah (3-5 tahun) yang dikelola perusahaan dinilai berisiko gagal bayar akibat disrupsi masif teknologi kecerdasan buatan (AI), yang diprediksi akan menggantikan atau mengkanibalisasi industri perangkat lunak konvensional.
Harga saham Blue Owl pun anjlok mendekati level terendah dalam dua setengah tahun terakhir, memaksa manajemen melakukan intervensi verbal untuk meredam kepanikan.
Meski Co-President Craig Packer membantah adanya penghentian total penarikan dana (redemptions), laporan Wall Street Journal menyebut bahwa penundaan pembukaan kembali penarikan modal menunjukkan adanya ketegangan likuiditas yang nyata.
Sebagai langkah kompromi, manajemen berkomitmen mengembalikan 30% modal investor pada nilai buku dalam 45 hari, guna mencegah terjadinya bank run pada dana kredit swasta.
Krisis Blue Owl pun memicu perdebatan regulasi dan risiko sistemik di Washington.
Senator Demokrat Elizabeth Warren secara terbuka menyoroti potensi risiko instrumen kredit swasta terhadap akun pensiun warga Amerika, dan mendesak transparansi serta pelaksanaan stress test berskala pasar untuk mengukur ketahanan manajer aset terhadap guncangan teknologi.
Ekonom Mohamed El-Erian pun memperingatkan bahwa situasi ini mirip dengan “canary-in-the-coal-mine”, menandakan potensi sinyal awal krisis finansial global seperti 2008.
[[ Ungkapan “canary-in-the-coal-mine” berarti sinyal awal atau peringatan dini bahwa akan terjadi masalah besar. Ungkapan berasal dari praktik lama penambang batu bara di Inggris dan Amerikat. Dahulu, penambang membawa burung kenari ke dalam tambang untuk mendeteksi gas beracun. Jika burung itu jatuh sakit atau mati, para penambang tahu ada bahaya dan harus segera keluar. ]]
Meski manajemen Blue Owl bersikeras bahwa AI hanya akan berperan sebagai “asisten pribadi” dan tidak menggantikan perangkat lunak inti, pasar tetap menghitung risiko pelebaran spread.
Presiden Blue Owl, Erik Bissonnette, mengakui bahwa partisipasi pasar di sektor software kemungkinan akan menyusut seiring meningkatnya skeptisisme terhadap valuasi aset tradisional di era AI.
Sebelum kasus yang menimpa Blue Owl Capital, pasar private credit sebenarnya sudah sempat diguncang oleh beberapa default gagal bayar dan kebangkrutan perusahaan yang menunjukkan risiko pada model pendanaan ini.
Pada September 2025 misalnya, dua nama besar private credit mengalami kegagalan signifikan:
Kedua kejadian ini menjadi sorotan utama terhadap pasar private credit karena menggambarkan bagaimana eksposur terhadap kredit berisiko, terutama di sektor yang sedang mengalami tekanan ekonomi, dapat memicu default dan write‑down besar, sehingga meningkatkan permintaan penarikan modal dan menciptakan kekhawatiran likuiditas yang lebih luas di industri ini. (SF)