Rusia hidupkan peluncur roket era Vietnam dalam sistem Kozerog-1

Senin, 23 Februari 2026

image

JAKARTA – Rusia dilaporkan kembali menghidupkan konsep peluncur roket portabel dari era Perang Vietnam melalui sistem baru bernama Kozerog-1. Seperti dikutip dari united24media.com (20/02), sistem ini merupakan pengembangan dari peluncur roket ringan 9P132 Grad-P, yang awalnya dirancang oleh insinyur Soviet untuk digunakan oleh pasukan gerilya.

Peluncur Grad-P pertama kali dikembangkan pada masa Perang Vietnam sebagai solusi artileri roket ringan yang bisa dioperasikan oleh unit kecil di medan tempur. Sistem ini menembakkan amunisi dari keluarga roket Grad yang biasanya digunakan oleh multiple launch rocket system (MLRS), sehingga pasukan gerilya bisa menggunakan daya tembak artileri roket tanpa bergantung pada kendaraan peluncur besar.

Varian modern Kozerog-1 memiliki bobot sekitar 235 kilogram, jauh lebih berat dibanding pendahulunya yang hanya 55 kilogram. Kenaikan massa ini memberikan keuntungan teknis berupa stabilitas peluncuran lebih tinggi, mengurangi getaran dan pergeseran saat roket ditembakkan, sehingga akurasi lebih konsisten. Meski lebih berat, sistem ini tetap mempertahankan mobilitas: dapat dibongkar menjadi beberapa komponen agar bisa dipindahkan oleh personel di lapangan.

Kozerog-1 juga memungkinkan pemasangan hingga tiga tabung peluncur roket dan dudukan yang bisa diputar untuk perangkat bidik optik. Konfigurasi ini memungkinkan operator melakukan tembakan langsung maupun tidak langsung dari posisi tersembunyi. Pendekatan ini menunjukkan evolusi konsep peluncur roket gaya gerilya Perang Dingin yang disesuaikan dengan kebutuhan operasi modern, memberikan fleksibilitas tambahan bagi unit kecil yang tersebar di medan tempur.

Selain itu, pasukan Rusia juga mengoperasikan sistem peluncur roket improvisasi pada kendaraan robotik darat bernama Kultivator, yang dioperasikan oleh resimen sistem tak berawak Burevestnik. Platform ini menggabungkan pod roket dengan kendaraan darat tanpa awak, menciptakan sistem artileri jarak jauh yang fleksibel, sekaligus menunjukkan kemampuan Rusia dalam mengadaptasi teknologi lama untuk menciptakan kemampuan tempur baru.

Sejalan dengan hal tersebut, seperti dikutip Vifindia, strategi asimetris menekankan bahwa dalam menghadapi lawan dengan keunggulan teknologi tinggi, kemampuan militer sederhana, murah, dan fleksibel tetap memiliki nilai strategis. Senjata portabel seperti roket ringan atau sistem improvisasi memungkinkan unit kecil melakukan serangan dari berbagai lokasi secara bergantian, sehingga sulit dilacak atau dihentikan oleh sistem pertahanan presisi tinggi. Pendekatan ini memanfaatkan kuantitas, mobilitas, dan kesederhanaan untuk menyeimbangkan ketimpangan teknologi.

Selain itu, senjata analog atau semi-portabel unggul dalam ketahanan terhadap gangguan elektronik dan kondisi medan sulit, karena tidak bergantung pada GPS atau sistem komputer canggih. Dengan cara ini, pihak yang lebih lemah secara teknologi tetap bisa menimbulkan ancaman nyata dan memaksa lawan mengalokasikan sumber daya lebih besar untuk pertahanan. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas dan efisiensi bisa menjadi senjata strategis tersendiri dalam konflik modern.