Trump heran Iran belum menyerah, apa kata Abbas Araghchi?
Senin, 23 Februari 2026

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertanyakan mengapa Iran belum menyetujui pembatasan program nuklirnya meski Washington meningkatkan tekanan militer di Timur Tengah.
Hal itu disampaikan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dalam wawancara dengan Fox News. “Saya tidak ingin menggunakan kata ‘frustrated’ … tetapi dia penasaran mengapa mereka [Iran] belum menyerah,” kata Witkoff.
Seperti dikutip Reuters, dia menjelaskan bahwa Trump heran mengapa Iran belum datang dengan komitmen jelas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir di tengah pengerahan besar kekuatan laut AS di Kawasan, dikutip Reuters.
Trump telah memerintahkan penambahan signifikan kekuatan militer AS di Timur Tengah serta persiapan untuk kemungkinan serangan udara terhadap Iran yang dapat berlangsung beberapa pekan. Iran menyatakan akan menyerang pangkalan-pangkalan AS jika diserang.
Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium, membatasi program rudal, serta mengakhiri dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan. Washington menilai pengayaan uranium Iran berpotensi digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Iran membantah tudingan tersebut dan menegaskan program nuklirnya bersifat damai. Teheran menyatakan bersedia menerima pembatasan tertentu jika sanksi ekonomi dicabut, namun menolak mengaitkan isu nuklir dengan rudal dan dukungan terhadap kelompok bersenjata.
“Mereka telah memperkaya jauh di atas tingkat yang dibutuhkan untuk nuklir sipil… hingga 60%,” kata Witkoff.
Ia menambahkan, Iran kemungkinan hanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu lagi proses pengayaa uranium dari bahan baku tingkat industri untuk kemudian menjadi bom nuklir.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Iran dan AS masih berbeda pandangan terkait pelonggaran sanksi dalam pembicaraan yang sedang berlangsung.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, ketika ditanya oleh Margaret Brennan dalam program "Face the Nation" stasiun televisi CBSNews, Minggu, (22/2), bahwa Iran menghadapi potensi kehancuran negara, berdasarkan jenis penumpukan militer yang dilakukan oleh Amerika, akibat kebuntuan proses terkait pengayaan uranium mengatakan: "Yah, saya pikir, sebagai negara yang berdaulat, kami memiliki setiap hak untuk memutuskan untuk diri kami sendiri, oleh kami sendiri."
Dia menambahkan:
"Iran telah mengembangkan teknologi nuklir sendiri, oleh ilmuwan kami, dan ini sangat berharga bagi kami, karena kami telah membayar biaya yang sangat besar untuk itu. Kami telah berada di bawah sanksi selama setidaknya 20 tahun. Dan kami telah kehilangan ilmuwan kami, dan kami telah mengalami perang karena itu. Jadi itu sekarang menjadi masalah martabat dan kebanggaan bagi orang Iran. Dan kami tidak akan menyerahkannya. Tidak ada alasan hukum untuk melakukan itu."
Iran merasa Amerika telah menarik diri dari perjanjian nuklir yang sebelumnya disepakati karena AS secara sepihak keluar dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang merupakan Iran nuclear deal atau kesepakatan nuklir Iran 2015.
Kesepakatan ini ditandatangani oleh Iran bersama negara P5+1 (AS, Inggris, Prancis, Rusia, China, Jerman) untuk membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.
Namun pada 8 Mei 2018, Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa Amerika akan menarik diri dari JCPOA dan kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran.
"Sementara semuanya berjalan damai, sementara kita memiliki kesepakatan di masa lalu, kita tetap berkomitmen penuh, dan Anda tahu, Amerika yang menarik diri tanpa pembenaran."
Araghchi menegaskan bahwa Iran adalah anggota yang berkomitmen pada NPT (Non-Proliferation Treaty/Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir) dan ingin menggunakan hak dan menjalankan perjanjian itu.
Brennan kemudian melanjutkan pertanyaan: "Pertahanan udara Iran sebagian besar hancur oleh Israel dan Amerika tahun lalu. Pemimpin proksi terkuat Iran di Hizbullah sudah dibunuh, Amerika juga sudah mengebom fasilitas nuklir bawah tanah Anda. Jadi mengapa Anda pikir rezim Iran bisa bertahan kecuali menyerah soal ini?
Araghchi membenarkan semua peristiwa itu dan mengakui Iran memiliki masalah dengan pertahanan udara, tetapi Israel juga memiliki masalah dengan pertahanan udara.
"Dan rudal-rudal kami mampu menghantam target di dalam Israel. Jadi itu Anda tahu, mereka memulai perang, tetapi setelah 12 hari mereka meminta gencatan senjata senjata tanpa syarat. Mengapa?"
Sebab, kata dia, Israel tidak bisa mempertahankan diri dari rudal Iran. Artinya, Iran memiliki kemampuan rudal yang sangat baik dan sekarang bahkan dalam situasi yang lebih baik daripada perang sebelumnya.
Jadi, lanjut Araghchi, faktanya Iran berada dalam posisi yang kuat untuk membela diri dan tahu caranya. "Dan kami sepenuhnya siap untuk mengulangi hal itu, jika perlu."
Saat ini, tutur Bennan, ada sekitar 40.000 personel Amerika di Timur Tengah, dalam surat kepada Dewan Keamanan PBB, tampak Iran mengancam mereka. j
Jika ancaman itu dilakukan, lanjut dia, semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh Iran di wilayah tersebut akan menjadi target yang sah.
"Apakah Anda mengatakan Iran akan menghantam pangkalan AS di Teluk, atau apakah Anda juga akan mengebom negara-negara Teluk yang merupakan tetangga Anda?"
Araghchi menjawab: "Yah, saya tidak akan mengatakan apa yang akan kami lakukan tepatnya, jelas, kami membela diri. Jika AS menyerang menyerang kami, maka kami memiliki setiap hak untuk membela diri. Jika AS menyerang kami, itu adalah tindakan agresi. Apa yang kami lakukan sebagai respons adalah tindakan membela diri. Dan itu dapat dibenarkan dan sah.
Jika rudal Iran kami tidak dapat menghantam tanah Amerika maka harus melakukan sesuatu yang lain. "Kami harus menghantam, Anda tahu, pangkalan Amerika di wilayah tersebut. Itu adalah fakta. Saya seorang diplomat. Saya tidak seharusnya berbicara tentang rencana militer kami."
Dia melanjutkan: "Tapi apa yang bisa saya katakan adalah, mengapa kita harus pergi berperang ketika ada setiap kemungkinan untuk solusi damai?"
>> Hormuz Risk Premium
Seperti diketahu pasar minyak mencatat awal tahun terkuat sejak 2022, didorong gangguan pasokan, sanksi, dan meningkatnya risiko geopolitik di Iran. Kini, para trader mempercepat langkah lindung nilai seiring kekhawatiran Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran.
Dikutip theedgemalaysia, Senin (23/2) aktivitas di pasar berjangka dan opsi melonjak, mendorong harga minyak mentah naik signifikan. Kontrak berjangka Brent sempat menyentuh level tertinggi tujuh bulan di atas US$72 per barel, sementara analis memperkirakan premi risiko geopolitik bisa mencapai US$10 per barel. Sejak akhir tahun lalu, harga Brent telah naik sekitar 18%.
Kenaikan harga minyak juga seiring dengan langkah pelaku pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik (geopolitical risk premium) ke dalam perhitungan harga.
Analis Komoditas Ole Hansen dari Saxo Bank menilai lonjakan risiko konflik telah memicu kenaikan harga minyak lebih dari 4% pada pertengahan pekan, 18–19 Februari. Menurutnya, pengerahan militer AS dalam skala tidak lazim menciptakan kekhawatiran serius terhadap potensi gangguan pasokan, khususnya di jalur vital Selat Hormuz.
Sementara itu, Phil Flynn, Analis Senior di Price Futures Group, dalam laporannya The Energy Report (20/02/2026), menyebut pasar energi saat ini berada dalam kondisi siaga penuh, namun masih tertahan oleh ketidakpastian arah kebijakan Washington.
Menurut Flynn, pelaku pasar masih menimbang apakah ancaman Presiden Donald Trump akan berujung pada aksi militer nyata, atau sebatas strategi penggetaran (deterrence) untuk menekan Iran secara politik dan diplomatik.
Nada serupa disampaikan Warren Patterson, Head of Commodities Strategy di ING Group. Ia menilai ketidakpastian selama masa tenggat ultimatum, sekitar dua minggu ke depan, akan menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi.
“Ketidakpastian dalam dua minggu ke depan akan membuat pasar terus menghitung premi risiko yang besar, sehingga menopang harga minyak di level tinggi,” ujarnya.
Lalu, bagaimana proyeksi harga minyak ke depan? Laporan terbaru dari BloombergNEF memperingatkan potensi skenario terburuk. Jika konflik meningkat hingga menyebabkan ekspor minyak Iran terhenti sepenuhnya, harga minyak Brent diperkirakan dapat melonjak hingga rata-rata US$91 per barel pada kuartal IV 2026.
Skenario tersebut menegaskan bahwa eskalasi militer di sekitar Iran tidak hanya menjadi isu keamanan internasional, tetapi juga berpotensi memicu guncangan besar pada stabilitas pasar energi global. (DH/MT)
Terkait: Iran memanas, AS kerahkan 50% kekuatan udara global ke Timur Tengah