Blue Owl bantah krisis likuiditas, cairkan 30% modal dalam 45 hari

Senin, 23 Februari 2026

image

JAKARTA – Raksasa modal swasta (private credit) Blue Owl Capital Inc. menepis keras spekulasi pasar yang menyebutkan bahwa perusahaan telah menghentikan likuiditas atau memblokir akses penarikan tunai bagi para investor di reksa dana utang swastanya.

Bantahan ini dikeluarkan menyusul tekanan jual yang sempat menghantam saham perusahaan usai pengumuman perombakan mekanisme penebusan (redemption).

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (20/02), kepanikan di Wall Street bermula ketika Blue Owl menyatakan akan menghentikan fasilitas penebusan kuartalan reguler untuk produk reksa dana utang non-perdagangan mereka, Blue Owl Capital Corp II (OBDC II).

Keputusan yang dianggap mendadak ini sempat memicu kekhawatiran adanya ketegangan likuiditas di dalam portofolio utang swasta (private debt) perusahaan, yang berujung pada merosotnya nilai saham.

Namun, pihak manajemen segera merilis pernyataan resmi untuk meluruskan kesalahpahaman dan meredam sentimen negatif tersebut.

"Kami tidak menghentikan likuiditas investor di reksa dana utang non-perdagangan Blue Owl Capital Corp II," tegas perwakilan Blue Owl dalam pernyataan tertulisnya, hanya berselang satu hari setelah pengumuman awal.

Berdasarkan laporan Reuters, manajemen mengklaim bahwa perombakan skema ini justru dirancang sebagai intervensi positif untuk mempercepat aliran uang tunai kembali ke tangan investor.

Pada sistem sebelumnya, investor harus melalui proses penawaran tender kuartalan yang membatasi penarikan maksimal hanya 5% dari modal.

Melalui skema baru, perusahaan menggantinya dengan komitmen pembagian 30% dari nilai aset bersih (net asset value) kepada seluruh pemegang saham secara merata dalam kurun waktu 45 hari ke depan.

Manajemen Blue Owl menekankan bahwa secara matematis, implementasi rencana baru ini berarti mereka mengembalikan modal enam kali lipat lebih besar dibandingkan batas maksimal mekanisme tender kuartalan sebelumnya.

Langkah agresif perombakan pembayaran ini dinilai sebagai strategi proaktif manajemen untuk memamerkan kesehatan arus kas sekaligus menenangkan para pemegang saham institusional.

Ke depannya, Blue Owl memastikan bahwa manuver ini bukanlah suntikan likuiditas sesaat yang bersifat darurat. Perusahaan menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan cetak biru pengembalian modal baru ini kepada para investor OBDC II pada kuartal-kuartal mendatang, guna memulihkan dan menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas instrumen utang swasta mereka. (SF)