Kopi Kenangan ungkap kesalahan startup hingga peluang IPO
Selasa, 24 Februari 2026

JAKARTA - Kopi Kenangan menyoroti risiko ekspansi berlebih yang kerap terjadi pada startup Asia Tenggara setelah perusahaan mengakui strategi diversifikasi bisnis sebelumnya sempat membebani kinerja keuangan.
CEO dan Co-Founder Kopi Kenangan, Edward Tirtanata, mengatakan salah satu kesalahan terbesar startup di kawasan Asia Tenggara, adalah kelebihan pendanaan sejak tahap awal. Hal ini dinilai mendorong perusahaan menjalankan terlalu banyak inisiatif di luar prioritas utama.
“Masalah terbesar startup di Asia Tenggara adalah para pendirinya terlalu kaya sumber daya, bukan kekurangan sumber daya,” ujar Edward, dalam wawancara dengan The Business Times.
“Ketika Anda menggalang pendanaan hingga ratusan juta dolar, Anda mulai mengerjakan proyek-proyek yang sebenarnya hanya prioritas kelima, keenam, atau ketujuh,” imbuhnya.
Sebelumnya, Kopi Kenangan meraih status unicorn pada akhir 2021 setelah mengantongi pendanaan besar dari sejumlah investor global. Modal tersebut mendorong ekspansi agresif, termasuk peluncuran merek Cerita Roti, Chigo, dan Flip Burger.
Edward mengakui strategi ini membebani kinerja keuangan. “Setelah 2022, saya menyadari bahwa kami mengerjakan terlalu banyak hal,” kata Tirtanata.
“Kami menyadari gangguan-gangguan itu menjauhkan kami dari inti bisnis,” imbuhnya.
Perusahaan kemudian memangkas jumlah inisiatif dan kembali memprioritaskan bisnis utama. Hasilnya, Kopi Kenangan berhasil mencetak laba sekaligus mempercepat pertumbuhan pelanggan berbasis digital pada 2025.
Perusahaan memperoleh 4,5 juta pelanggan baru sepanjang 2025, dengan pengguna transaksi digital bulanan naik 116% menjadi 1,5 juta. Realisasi ini mendorong pertumbuhan pendapatan 45% menjadi US$184 juta, serta membantu perusahaan mencetak laba perdana US$17 juta.
Capaian ini berbalik tajam dibandingkan kondisi 2022, ketika rugi bersih Kopi Kenangan meningkat 70% secara tahunan menjadi Rp452,2 miliar. Manajemen menyebut kinerja tersebut ditopang oleh perbaikan fokus bisnis dan disiplin penggunaan modal.
Hingga akhir 2025, Kopi Kenangan mengoperasikan 1.324 gerai di enam negara, dengan Indonesia sebagai pasar utama yang menyumbang 1.137 gerai. Perusahaan membuka rata-rata satu gerai per hari dan tetap melakukan ekspansi luar negeri secara bertahap.
Untuk 2026, manajemen memproyeksikan laba bersih naik 67% menjadi US$29 juta, seiring pembukaan ratusan gerai baru dan pertumbuhan pelanggan.
Meski demikian, Tirtanata menegaskan perusahaan belum berencana melakukan IPO dalam waktu dekat. “Banyak perusahaan melantai di bursa terlalu cepat,” ujarnya.
“Bagi kami, ini adalah kesempatan seumur hidup, jadi lebih baik dilakukan dengan benar,” tandas Edward. (DH/KR)