'Unwind carry yen' dinilai pemicu tekanan jual mendadak pada bitcoin
Selasa, 24 Februari 2026

JAKARTA – Bitcoin terkadang mengalami penurunan tajam meski tidak ada kabar besar dari industri kripto. Salah satu pemicu yang kerap berulang justru datang dari luar pasar kripto, yakni pembalikan strategi carry trade berbasis yen (unwind carry yen).
Mekanismenya relatif sederhana. Selama bertahun-tahun, yen dimanfaatkan sebagai mata uang pendanaan karena suku bunganya rendah. Dana murah ini kemudian dialirkan ke aset berisiko yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, termasuk saham, kredit, dan kripto.
Masalah muncul ketika pergerakan USD/JPY berlangsung cepat dan tajam. Kondisi ini memicu pengetatan margin, pemangkasan batas risiko (Value-at-Risk/VaR), serta kewajiban mengurangi leverage. Saat itu terjadi, investor terpaksa menutup posisi carry trade secara serentak.
Menurut Cryptoslate, proses unwind ini membuat bitcoin terkoreksi seolah-olah ada sentimen negatif besar, padahal berita kripto sedang relatif sepi. Tekanan muncul bukan karena fundamental kripto, melainkan akibat penurunan likuiditas, pelebaran spread, dan penutupan posisi derivatif secara cepat.
Sinyal kewaspadaan dari otoritas Jepang memperbesar sensitivitas pasar. Pada 12 Februari 2026, diplomat mata uang utama Jepang, Atsushi Mimura, menyatakan pemerintah “tidak menurunkan kewaspadaan” terhadap volatilitas nilai tukar yen, serta memantau pasar dengan urgensi tinggi dan berkoordinasi erat dengan otoritas AS.
Ketika nada komunikasi seperti ini muncul, pelaku pasar biasanya menjadi lebih waspada terhadap risiko intervensi. Akibatnya, posisi carry trade cenderung dipangkas lebih cepat dan lebih dini, terutama saat pergerakan nilai tukar dianggap “terlalu jauh”.
Skalanya tidak kecil. Data Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan pinjaman berdenominasi yen kepada entitas non-bank di luar Jepang mencapai sekitar ¥40 triliun pada Maret 2024, atau setara sekitar US$250 miliar. Dengan ukuran sebesar itu, pembalikan carry trade berpotensi memengaruhi kondisi risiko global, termasuk kripto.
Dampaknya ke bitcoin bersifat mekanis. Tekanan biasanya bermula di pasar valuta asing, lalu menyebar ke saham dan kredit melalui lonjakan volatilitas dan pengetatan batas risiko, sebelum akhirnya menekan harga kripto melalui arus pengurangan risiko (deleveraging).
Pergerakan bitcoin mungkin tampak berdiri sendiri pada awalnya. Namun, jika ditelusuri melalui perubahan kondisi pendanaan dan volatilitas lintas aset, penurunan tersebut sering kali selaras dengan gelombang deleveraging global. (DK)